Kenali Tanda Depresi Untuk Hidup Yang Lebih Bahagia

Setiap orang pernah merasakan kesedihan, namun tidak semua orang mengalami depresi. Jika kamu tidak pernah mengalami depresi, maka kemungkinan besar kamu tidak mengerti bagaimana kompleksnya masalah yang dialami orang dengan depresi.

Depresi sangat berbahaya dalam kehidupan seseorang. Akibat yang ditimbulkan oleh depresi bukan saja soal suasana hati (mood) seseorang, namun juga mengenai kemampuan seseorang untuk merasakan (feel), berfikir dan bertindak. Depresi dapat membuat seseorang tidak dapat merasakan kenikmatan, tidak terbuka, mengisolasi diri, menumpulkan kreativitas dan yang paling berbahaya membuat seseorang putus asa. Semua masalah itu tidak hanya dirasakan oleh orang yang mengalami depresi melainkan juga orang-orang di sekelilingnya seperti teman dan keluarga terkena imbasnya.

Depresi Dalam Statistik

Menurut National Institute of Mental Health Amerika, Depresi merupakan penyakit kejiwaan nomor satu di Amerika. Sekitar 17.3 juta jiwa atau sekitar tujuh persen dari total populasi penduduk Amerika mengalami depresi. Selain itu menurut laporan dari Mental Health America pikiran untuk bunuh diri pada orang dewasa mengalami tren peningkatan sebanyak 0.15 persen.

Kabar baiknya, walaupun tidak ada obat ajaib untuk depresi. Banyak macam treatment yang dapat membantu meringankan gejala depresi. Di sisi lain masih banyak orang dengan depresi yang tidak mendapatkan akses kesehatan jiwa sebagaimana jurnal yang keluarkan oleh Neuropsychiatric Disease and Treatment.

Kenali Tanda-Tanda Depresi

Kesedihan dan depresi adalah hal yang mirip namun berbeda. Jika kamu diputus pacar tentu akan merasa kesedihan namun jika kesedihanmu berlarut sehingga membuat kamu ingin bunuh diri maka itu depresi. Kita bisa mengenali tanda-tanda depresi sebagaimana panduan yang diberikan oleh American Psychiatric Assosiation berikut ini:

  • Merasakan kesedihan, kosong, tidak berguna secara terus menerus (constant)?
  • Tidak merasakan semangat atau kebahagian dalam menjalani aktivitas sehari hari seperti bekerja, menyalurkan hobi, ngobrol dengan teman dan hal lain yang biasanya membuat kamu senang?
  • Merasakan perubahan yang dramatis terkait selera makan atau berat badan?
  • Sering merasa lesu atau kecapekan tanpa ada penyebab yang jelas?
  • Susah konsentrasi atau susah mengambil keputusan?
  • Sering menunjukkan tanda-tanda panik atau bingung, seperti berkeringat padahal tidak kepanasan, menggoyang-goyangkan kaki atau tangan?
  • Susah tidur atau terlalu banyak tidur?
  • Memiliki pikiran atau ide untuk bunuh diri?

Hal-hal di atas sebenarnya merupakan hal yang lumrah dan terjadi pada setiap orang. Yang membedakan dengan depresi adalah gejala gejala tersebut menetap dan membuat seseorang kesulitan untuk bertindak normal.

Jika kamu mengalami gejala depresi segera temui dokter atau psikiater atau psikolog.

Jika kamu atau seseorang yang kamu tahu menyakiti dirinya sendiri hubungi layanan gawat darurat 119.

Apa Yang Menyebabkan Depresi.

Tidak ada yang tahu sebenarnya kenapa seseorang bisa mengalami depresi sedangkan orang lain tidak. Depresi dapat terjadi secara tiba-tiba tanpa adanya penyebab yang jelas. Jika kamu pernah mengalami depresi besar kemungkinan kamu akan mengalaminya lagi suatu saat nanti. Penelitian yang dilakukan oleh The Netherlands Mental Health Survey and Incidence Study (NEMESIS) menemukan bahwa lebih dari 13 persen orang yang telah sembuh dari depresi pertamanya akan mengalami lagi dalam rentang lima tahun; 23 persen dalam rentang 10 tahun dan 42 persen dalam rentang 20 tahun.

Psikiater kiwari umumnya melihat depresi dalam kacamata bio-psycho-social, yang menunjukkan bahwa depresi adalah hal kompleks yang diakibatkan (triggered) tumpang tindih antara faktor baik dalam biologi, psikologi dan sosial. Selain itu terdapat pula kecenderungan berasal dari faktor:

  • Genetik banyak penelitian menunjukkan bahwa depresi dapat muncul karena faktor genetik. Sebuah penelitian Internasional yang melibatkan lebih dari dua juta partisipan yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Neuroscience mengaitkan 269 gen sebagai penyebab depresi.
  • Neurotransmitters pandangan lama mengenai penyebab depresi adalah kurangnya neurotransmitters (pembawa pesan kimia yang mengomunikasikan antar neuron di otak) tertentu telah dipatahkan. Walaupun begitu neurotransmitters berkontribusi pada depresi. Pandangan baru tentang depresi adalah terkadang dapat ditimbulkan akibat aktivitas koneksi sel saraf.
  • Peradangan banyak penelitian yang menunjukkan penyakit yang berhubungan dengan peradangan dapat mengubah senyawa kimia dalam otak yang memicu depresi pada sebagian orang.
  • Kemalangan menurut WHO faktor psiko-sosial seperti abuse, kesehatan yang buruk, kelaparan, pengangguran, isolasi sosial, kemiskinan, tidak memiliki pasangan atau keluarga memainkan peran penting dalam memicu depresi.
  • Cedera Otak penyebab depresi lainnya adalah cedera otak. Pada orang yang mengalami cedera otak lebih dari separuhnya mengalami depresi tiga bulan setelah kecelakaan.

Tinggalkan Balasan

Email Anda tidak akan di publikasikan. Bidang yang ditandai * harus diisi