Suka Makan Ikan Laut, Bisa Improve Mood Kamu

Sebuah studi yang dipublikasikan pada 4 Juli 2021 menyebutkan bahwa individu dengan gangguan bipolar yang menyesuaikan diet dengan lemak-asam tertentu dapat mengurangi perubahan mood.

Menurut National Alliance on Mental Illness menyebutkan hampir 3 persen orang di Amerika Serikat yang menderita gangguan bipolar. Orang dengan kondisi ini memungkinkan mengalami perubahan yang dramatik pada mood, energi dan pola tidur. Perubahan mood ini termasuk manic atau hypermanic episodes, yang mana seseorang akan merasakan kesenangan berlebih. Selain itu, seseorang dengan bipolar juga akan mengalami perasaan teramat sedih.

Beberapa penelitian menyebutkan bahwa mungkin terdapat hubungan antara konsumsi makanan laut yang kaya akan lemak-asam omega-3 dengan penurunan gangguan bipolar. Walaupun demikian, sebuah studi yang menyasar efek antara suplemen minyak ikan dan kondisi bipolar tidak mendapatkan keterkaitan sama sekali.

Menggunakan Diet Untuk Memperbaiki Mood

Penelitian menunjukkan bahwa pengobatan yang dokter berikan untuk mengobati gangguan bipolar dapat mengubah bagaimana tubuh memecah asam-lemak.

The Penn State College of Medicine menghipotesakan bahwa dengan mengubah tipe dan penomoran asam-lemak pada diet, membuat tubuh menghasilkan metabolisme yang memiliki fungsi tertentu seperti mengurangi peradangan atau rasa sakit.

Lebih lanjut para peneliti ingin melihat apakah dengan mengurangi asupan asam linoleic (asam lemak omega-6) secara bersamaan menambah asupan omega-3 dapat memberikan hasil yang postif bagi orang dengan gangguan bipolar.

Para peneliti membagi 82 partisipan ke dalam dua kelompok: terkontrol dan uji coba.

Bagi mereka yang berada dalam grup uji coba dikurangi asupan asam linoleic dengan membatasi makanan seperti daging merah, telur, dan minyak-minyak tertentu. Selain itu tingkat asupan omega 3 ditingkatkan dengan memakan makanan seperti ikan tuna dan salmon. Para peneliti juga memberikan diet tertentu bagi mereka yang termasuk dalam grup terkontrol sehingga para partisipan tidak tahu dia termasuk ke dalam grup mana.

Seluruh partisipan menerima makanan, dengan komposisi yang spesifik, dan intruksi persiapan selama 12 minggu. Peneliti menginstruksikan bagi partisipan untuk tetap melanjutkan pengobatan yang mereka terima dari dokter masing-masing.

Pada akhirnya, Peneliti menemukan bahwa kelompok uji coba mood variability nya lebih seimbang.