AWAS! Virus Covid Baru C.1.2

Begitu menyebar virus kemungkinan besar akan bermutasi hingga menghasilkan jenis varian virus yang baru. Varian baru virus dapat menjadikannya lebih cepat menyebar, menjadi resisten terhadap pegobatan atau vaksin dan dapat menjadi lebih berbahaya, yang mana varian berbahaya ini disebut Variant of Concern (VOC).

Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO hingga saat ini mendapati beberapa varian virus dari Sars-CoV-2 yang menjadi VOC:

  • Alpha B.1.1.7, yang pertama kali dideteksi pada September 2020 di Inggris.
  • Beta B.1.351, yang pertama kali dideteksi pada Mei 2020 di Afrika Selatan.
  • Gamma P.1, yang pertama kali dideteksi pasa November 2020 di Brazil.
  • Delta B.1.617.2, yang pertama kali dideteksi pada Oktober 2020 di India

Sebuah virus membutuhkan inang untuk mereplikasi diri dan bermutasi. Hal ini menjadikan pandemi menjadi sulit untuk dijinakkan. Satu-satunya cara untuk mencegah terjadinya varian baru yang lebih ganas adalah dengan menghentikan atau menghambat laju penyebaran dan infeksi.

Sars-CoV-2 akan cepat mereplikasi diri pada seseorang yang tidak melakukan vaksinasi. Karena cepatnya replikasi ini virus memiliki kesempatan untuk bermutasi. Oleh karena orang yang terjangkit virus bisa saja tidak menunjukkan gejala, maka virus akan lebih lama berada di dalam tubuh sehingga virus leluasa untuk mereplikasi diri dan bermutasi.

Virus Sars-CoV-2 yang mengakibatkan penyakit Covid-19 dapat dengan mudah menginfeksi dan mereplikasi diri pada orang yang tidak melakukan vaksinasi Covid. Oleh karena orang-orang yang tidak melakukan vaksinasi dan terinfeksi virus ini menyebabkan naiknya kemungkinan mutasi VOC.

Pada penelitian terakhir, ilmuwan dari National Institute for Communicable Diseases (NICD) di Johannesburg, Afrika Selatan, bersama dengan institusi dari berbagai negara, mengidentifikasikan dan mendiskusikan potensi varian virus yang disebut C.1.2.

Semenjak pertama kali diketahui pada Mei 2021, para ilmuwan telah menemukan varian C.1.2 di tujuh negara, termasuk Selandia Baru, Inggris dan China. Walaupun varian ini memiliki karakteristik yang mengkhawatirkan, para ahli masih mengumpulkan data. Jurnal terakhir mengenai varian ini dapat diakses di medRxiv.

Menggunakan analisis genetika, penulis penelitian mencatat bahwa C.1.2 memilki banyak mutasi yang juga ditemukan pada varian Alpha, Beta, Delta dan Gamma. Para peneliti menyatakan bahwa mutasi ini membuat virus lebih mudah untuk memasuki sel target, membuat resistansi pada obat dan vaksin serta menyebar satu orang ke orang lainnya.