Covid-19 Berasal Dari Eropa Bukan China?

Apakah virus Sars-Cov-2, coronavirus yang menyebabkan Covid-19, telah menyebar lebih awal dari perkiraan kita?

Teori terbaru dan penelitian pembantu bermunculan ketika para ilmuwan mencari tahu tepatnya kapan dan di mana virus Sars-CoV-2 pertama kali muncul.

Studi terbaru mengenai penyebaran virus yang memfokuskan pada alur-waktu munculnya virus terjadi sekitar musim panas 2019.

Investigasi sebelumnya telah memunculkan kemungkinan bahwa penyebaran telah terjadi lebih awal. Pada investigasi yang dipublikasikan oleh pemerintah China dan WHO pada akhir Maret 2021. Menyebutkan bahwa terdapat kemungkinan penyebaran sporadis infeksi antar manusia sebelum wabah di Wuhan, China.

Sementara itu, peneliti dari University of Kent Inggris memperkirakan bahwa Sars-CoV-2 muncul pada 17 November 2019 dan menyebar ke seluruh penjuru dunia pada Januari 2020.

Penelitian Yang Menantang Pendapat Lama

Menurut data yang tersedia Alur-waktu mengenai penyebaran Sars-CoV-2 di Eropa dimulai pada Januari 2020, seminggu setelah dideteksi di Wuhan, China, 8 Desember 2019.

Pasien pertama di Eropa dilaporkan pada 24 Januari 2020 di Bordeaux, Perancis. Pada hari yang sama dua kasus lainnya terkonfirmasi di Paris. Ketiga pasien itu diketahui habis bepergian dari China.

Seminggu setelahnya, pada 31 Januari 2020, Itali mengonfirmasi dua kasus pertamanya di Roma. Kluster besar pertama muncul beberapa minggu kemudian pada 21 Februari 2020 di Codogno, Lombardy. Pada hari yang sama terjadi kasus kematian pertama akibat Covid-19 dan dimulainya gelombang pertama.

Walaupun demikian, terdapat pandangan yang menyebutkan bahwa 24 Januari 2020 bukanlah kasus pertama di Eropa.

Oktober 2019; Sampel Darah Dari Pasien Kanker di Italia.

Pusat penelitian kanker di Itali mempublikasikan penelitian yang menimbulkan debat tentang asal mula dan bagaimana Sars-CoV-2 menyebar.

Penelitian yang dilakukan oleh peneliti dari laboratorium VisMederi Universitas Siena dan Milan Cancer Institue yang dipublikasikan pada jurnal Tumori yang kemudian dimuat juga di MedxRiv setelah menguji ulang sampel-sampel.

Para peneliti menganilisa sampel darah yang diambil dari 959 sukarelawan yang sehat selama uji coba screening pada Oktober 2019. Mereka menemukan bahwa 100 orang telah menunjukkan kaitan-coronavirus terkait immunoglobulin M antibodies, immunoglobulin G antibodies atau keduanya. Yang mana hal ini membuat ilmuwan percaya bahwa sukarelawan tersebut sudah terinfeksi Sars-CoV-2.

Ilmuwan lainnya memiliki keraguan mengenai hasil penelitian itu dan menunjukkan keanehan terkait studi yang dilakukan.

Sebagai contoh, peneliti tidak menilai apakah deteksi itu berkaitan dengan novel-corona atau jenis coronavirus lainnya yang mengakibatkan flu biasa.

Rekanan peneliti dari Belanda yang dipimpin oleh virologis Prof. Marion Koopmans dari Universitas Erasmus Rotterdam, Belanda. Mengutarakan bahwa false-positive merupakan hal yang dimungkinkan dalam situasi dengan prevalensi rendah.

Perbedaan metode pengetesan akan memengaruhi hasil uji, selain itu para peneliti dari Belanda tidak dapat mengonfirmasi hasil positif yang dilakukan oleh peneliti di Italia. Lebih lanjut investigasi dari WHO mengungkapkan bahwa tidak ditemukan cukup antibodi yang bisa membuktikan bahwa para sukarelawan telah terinfeksi novel-corona.

Akhir Desember 2019; Seorang Laki-Laki Dengan Pneumonia di Perancis.

Seorang laki-laki 43 tahun dari Bobigny mendapatkan perawatan di sebuah rumah sakit di dekat Paris pada 27 Desember 2020, dengan gejala batuk kering, kesulitan bernafas dan demam.

Dia dicurigai menderita pneumonia, namun oleh dokter yang merawatnya Yves Cohen melakukan uji swab ulang pada Mei 2020. Hasilnya positif Sars-CoV-2, yang kemudian menjadi perdebatan mengenai alur-waktu di Perancis. Dan laki-laki tersebut dilaporkan tidak bepergian keluar negeri.

Pertengahan Desember; Sampel Limbah Dari Milan dan Turin

Pengawasan lingkungan di tiga kota di Italia mengungkap kehadiran Sars-CoV-2 di sampel limbah yang diambil pada Oktober 2019 dan Februari 2020.

Penelitian yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan dan Lingkungan Roma, menemukan bahwa 15 sampel yang terdeksi positif, delapan di antaranya diketahui sebelum Februari 2020. Yang paling awal ditemukan pada 18 Desember 2019 di Milan dan Turin, memperkirakan bahwa virus telah menyebar di pertengahan Desember 2019.

Pada hari-hari awal pandemi, tidak ada test yang spesifik untuk mengetahui Sars-CoV-2. Melainkan, para dokter harus menganulir kondisi yang lain – seperti bacterial pneumonia dan influenza – pada orang dengan gejala serupa novel-corona.

Pada sisi lain salah satu cara para ilmuwan untuk mengetahui adanya infeksi yang mewabah adalah dengan menganalisa limbah.

Meenurut Dr. Semih Tareen, Ph.D. seorang virolog sebagaimana mengatakan bahwa analisa menggunakan limbah kota merupakan langkah pintar untuk meneliti suatu wabah, karena laporan mengenai orang yang mengalami gejala biasanya sudah terlambat dan infeksi sudah mewabah.

Awal Desember 2019; Seorang Anak Dengan Gejala Campak di Milan

Peneliti dari Universitas Milan memutuskan untuk melakukan investigasi pada kasus unik pada awal Desember 2019. Yang menjadi subjek adalah bocah laki-laki dari Italia bagian utara yang mengidap ruam seperti cacar.

Para peneliti menganalisa swab dari 39 orang, termasuk bocah laki-laki itu. Swab diambil antara September 2019 dan Februari 2020. Hanya bocah laki-laki itu yang hasilnya positif Covid-19.

Jurnal mengenai studi itu menyatakan bahwa Sars-CoV-2 bisa saja telah bersikulasi sekitar 3 bulan sebelum kasus Covid-19 pertama di Italia.

Namun terdapat kritik mengenai penelitian tersebut. Salah satu yang mencuat adalah para peneliti menggunakan sampel terkendali dari seseorang yang telah positif Sars-CoV-2, karena laboratorium itu juga melakukan tes Sars-CoV-2 saat ini, yang mana terdapat kemungkinan terjadinya kontaminasi.

November 2019; Perempuan Dengan Ruam di Milan

Dokter spesialis kulit merupakan salah satu ahli medis yang pertama melihat tanda-tanda Covid-19 pada pasiennya. Yang mana terjadi pada seorang pasien perempuan (25 tahun) yang menunjukkan tanda ruam seperti plak pada 10 November 2019.

Raffaele Gianotti meminta skin biopsy pada pasien tersebut dan dilakukan penelitian. Hasilnya ditemukan molekul Sars-CoV-2 pada sampel yang diambil.

Walau demikian WHO gagal mengonfirmasi penelitian tersebut karena pasien perempuan itu tidak diketahui keberadaannya dan Gianotti dilaporkan meninggal pada bulan Maret.

Musim Panas 2019; Pengawan di Lombardy

Para peneliti Italia melakukan pengawasan terhadap rubella dan campak di Lombardy, dengan fokus pada kondisi kulit dan gejala mirip cacar.

Mereka mengamil 435 sampel dari 156 orang dan menganalisa apakah terdapat Sars-CoV-2 pada sampel.

Mereka menemukan material genetik Sars-CoV-2 pada 13 sampel yang 11 diantaranya merupakan sampel sebelum terjadinya pandemi. Walau demikian, mereka tidak menemukan bukti terjadinya infeksi pada 281 sampel yang diambil antara Agustus 2018 dan Juli 2019.

Kasus pertama mereka deteksi pertama kali pada 12 September 2019 yang mana membuat para peneliti percaya bahwa infeksi terjadi pada Juni dan Agustus 2019.

Terdapat kritik mengenai metodologi penelitian tersebut. Peneliti membesarkan jumlah kecil DNA atau RNA virus yang mereka temukan. Yang mana metode ini menjadi diragukan dan menghasilkan false positive.

Catatan

Memang sulit menentukan kapan tepatnya sebuah virus menyebar, namun bukan hal yang mustahil.

Sars-CoV-2 bisa saja sudah mewabah di Italia dan Perancis lebih awal dari yang dilaporkan.

Namun semua hal itu bukan menjadi acuan bahwa “ground zero” penyebaran adalah Eropa dan bukan China.

Yang jelas diperlukan penelitian lebih lanjut dan bebas dari tekanan politik atau nasionalisme untuk mengetahui asal mula wabah Covid-19 ini.

Tinggalkan Balasan

Email Anda tidak akan di publikasikan. Bidang yang ditandai * harus diisi