Apa Yang Terjadi Jika Kamu Takut?

Semua pernah merasakan takut; ketakutan merupakan hal yang tak terhindarkan dalam pengalaman manusia.

Orang-orang secara umum mengasosiakan rasa takut sebagai perasaan yang tidak mengenakan, namun bagi sebagian orang mencari rasa takut itu, sebagai contoh menonton film horror.

Rasa takut merupakan hal dibenarkan dan dibutuhkan oleh manusia, misalkan berjalan di pinggir jurang yang curam.

Namun rasa takut dapat pula menjadi hal berbahaya dan tidak pada tempat dalam alam rasio manusia, sebagai contoh takut bahwa hidup ini akan sial jika menjalankan atau tidak menjalankan ritual tertentu.

Kenapa Kita Takut

Sejauh evolusi berjalan, rasa takut merupakan hal yang kuno, dalam derajat tertentu manusia diuntungkan atas rasa takut ini.

Hewan (manusia termasuk di dalamnya) yang tidak lari atau bersembunyi dari hewan yang lebih besar atau berbahaya maka kemungkinan untuk menurunkan keturunan akan sedikit.

Rasa takut berperan penting dalam bertahan hidup suatu spesies.

Yang Terjadi Dalam Tubuh

Orang biasanya mengasosiasiakan rasa takut pada perubahan psikologi berupa fight or flight response.

Naiknya intensitas bernafas, detak jantung yang meningkat disertai mengembangnya pembuluh darah. Pembuluh darah utama di sekitar organ vital akan melebar untuk membanjiri organ vital dengan oksigen dan nutrisi dan otot akan dipompa dengan darah untuk bereaksi.

Otot (terutama di dasar bulu) akan menegang menyebabkan piloerection, atau orang pada umumnya menyebut “merinding”. Ketika bulu pada manusia berdiri memang perbedaannya tidak kentara. Namun pada hewan-hewan yang tubuhnya dipenuhi bulu akan kentara.

Secara metabolisme, level gula darah akan meningkat, untuk memberikan energi yang diperlukan untuk bertindak. Begitu juga kalsium dan sel darah putih dalam darah akan meningkat.

Otak Menilai Respon Rasa Takut

Fight or flight response bermula di amygdala, yang mana merupakan bundel neuron yang merupakan bagian dari sistem limbic. Itu berperan penting dalam memproses emosi termasuk rasa takut.

Amygdala kemudian memberikan sinyal pada hypothalamus, yang mana akan mengaktifkan pituitary gland. Pituitary gland merupakan tempat bertemunya sistem saraf dengan sistem endocrine atau hormon.

Pituitary gland kemudian mengeluarkan hormon adrenocorticotropic (ACTH) pada darah.

Pada waktu ini, sistem saraf simpatetik yang merupakan bagian sitem saraf yang bertanggung jawab dengan fight or flight respone memberikan sinyal pada adrenal gland untuk menghasilkan epinephrine dan catecholamines yang kemudian ditribusikan oleh darah.

Tubuh juga akan mengeluarkan cortisol sebagai respon atas ACTH, yang akan menaikkan tekanan darah, gula darah dan sel darah putih. Beredarnya cortisol dalam tubuh mengubah asam lemak menjadi energi dan menyiapkan otot untuk digunakan.

Hormon-hormon itu juga dapat meningkatkan aktivitas paru-paru dan jantung, mengurangi aktivitas perut yang biasanya membuat mual pada perut. Selain itu mencegah produksi air mata dan air liur, melebarkan pupil mata dan mengurangi pendengaran.

Hippocampus, yang merubakan bagian otak yang berfungsi untuk menyimpan memori, membantu untuk mengontrol respon rasa takut. Bersama dengan prefrontal cortex, yang merupakan bagian otak yang terlibat dalam pembuatan keputusan, untuk menilai level ancaman.

Jika hippocampus dan prefrontal contex memutuskan bahwa rasa takut itu terlalu berlebihan, maka akan menekan aktivitas amygdala. Hal ini menjelaskan kenapa terdapat orang yang suka menonton film horror. Karena bagian otak yang terlibat dalam pembuatan keputusan menilai bahwa tidak diperlukan rasa takut.

Tinggalkan Balasan

Email Anda tidak akan di publikasikan. Bidang yang ditandai * harus diisi