Godzilla Dan Kecamuk Paska Perang Dunia Kedua

Perang Dunia kedua berakhir. Di Jerman Adolf Hitler bunuh diri di sebuah bunker bersama kekasihnya Eva Braun. Braun mati dengan menenggak racun sedangkan Hitler mati dengan peluru dari pistolnya sendiri.

Di Italia Il Duce sebutan atas Benito Mussolini tertangkap oleh kelompok partisan. Tak ambil lama Mussolini beserta kekasihnya Clara Petacci di eksekusi mati. Kemudian tubuh keduanya dibawa menuju Milan. Di Milan bak pawai, rakyat Italia yang muak dengan pemerintahan fasis Mussolini mengarak tubuh sang fasis beserta kekasih untuk kemudian di gantung dengan kaki di atas kepala di bawah.

Di Asia, Jepang menyerah kepada sekutu setelah dua kota besar mereka luluh lantak oleh bom atom. Hanya dengan dua biji bom sekutu mampu membabat 220.000 nyawa. Bukan hanya nyawa yang melayang saja. Rakyat jepang masih menghadapi radiasi yang membuat bayi lahir dengan segala kecacatan. Orang tua bayi menderita kanker yang memangkas nyawa. In This Corner of the World menggambarkan dengan jelas betapa rusaknya itu perang dan betapa ganasnya itu nuklir.

Sewindu lebih setelah perang berkecamuk di Asia Pasifik. 1954 tepatnya. Sebuah kapal nelayan bernama Daigo Fukuryu Maru atau di Barat di kenal dengan Lucky Dragon No.5 meninggalkan dermaga Yaizu untuk menangkap ikan. Kapal mengarungi laut Pasifik untuk menangkap tuna-tuna segar. Tak nyana malapetaka yang di dapat.

Bikini Atoll, sebuah pulau kecil dalam gugusan kepulauan Marshall yang berada di hamparan luas Pasifik. Dari pulau ini pakaian renang “bikini” mendapatkan nama. Setelah pebisnis lingerie dari Paris Louis Réard mendengar kampanye tes nuklir Amerika Serikat. Semenjak pertengahan 1946 Bikini Atoll dijadikan lokasi uji coba hulu ledak nuklir oleh Paman Sam. Lokasi ini di pilih karena jauh dari daratan Amerika dan penduduk asli Bikini Atoll “bersedia” untuk di pindah.

Pada 1 Maret 1954 sebuah bom nuklir meledak di Bikini Atoll. Ledakan bom ini merupakan bagian dari operasi militer Amerika serikat untuk menguji coba hulu ledak mereka. Operasi Castle begitu para jenderal Amerika menyebut berbuah sukses setelah bom mereka yang bernama Castle Bravo mampu menghasilkan 15 mega-ton TNT, lebih besar dua setengah kali lipat dari prediksi sebelumnya.

Ketika militer Amerika menguji coba Castle Bravo. Lucky Dragon No. 5 tiba di kepulauan Marshall. Setibanya di kepulauan tersebut para awak kapal yang berjumlah 23 di sambut oleh hujan abu. Tiada gunung di kepulauan itu, abu yang menyambut mereka berasal dari ledakan Castle Bravo. Seketika itu kapal merubah haluan kembali menuju Yaizu. Namun semuanya terlambat, abu-abu kematian yang mereka sebut shi no hai itu sudah menusukkan radiasi nuklir. Para awak mengalami sindrom radiasi akut.

Apa yang terjadi pada para awak kapal menimbulkan kepanikan seantero Jepang. Ingatan mereka masih segar betapa durjana bom nuklir itu ketika Nagasaki dan Hiroshima luluh lantak olehnya. Para aktivis dan nelayan berdemo menuntut dihentikannya uji coba bom nuklir. Di tengah gelombang kepanikan betapa mengerikannya bom nuklir. Sebuah film disutradarai oleh Ishiro Honda yang berjudul “Gojira” atau “Godzilla” hadir di bioskop delapan bulan selepas tragedi Lucky Dragon. Film ini menjadi metafora atas kengerian dan keganasan bom nuklir.

Tinggalkan Balasan

Email Anda tidak akan di publikasikan. Bidang yang ditandai * harus diisi