Arsenik Dari Bradford Hingga Munir

Arsenik merupakan senyawa yang tidak berbau dan berasa pertama kali berhasil diisolasikan oleh cendikia terkemuka Eropa St. Albert the Great . Terdapat sejarah panjang mengenai senyawa ini dari obat hingga racun. Namun racun merupakan hal yang paling di asosiasikan dengan arsenik.

Di Bradford — sebuah kota yang masuk dalam wilayah West Yorkshire Inggris – dua anak meregang nyawa. Saat itu kolera masih merajalela menghantui. Matinya dua anak itu diduga karena kolera. Namun dugaan itu terasa janggal ketika kematian demi kematian terus berlanjut. Usut punya usut kematian demi kematian itu dikaitkan dengan permen mentol yang di sebut “humbug”.

Pada 1858, di penghujung tahun. Harga gula kelewatan mahalnya di Inggris. Para pembuat manisan yang menggunakan gula sebagai bahan utamanya tentu kebingungan. Mau tak mau mereka harus mencari akal mengatasi permasalan ini. “Daff” di pilih oleh para pembuat manisan itu. Dengan mencampurkan gula dengan bubuk gipsum mereka dapat mengirit penggunaan gula pada manisan mereka.

Seorang bernama William Hardaker berjualan permen dari sebuah kios pasar di tengah kota Bradford. Karena manisan yang dijualnya ini ia mendapat sebutan “Humbug Billy”. Pasokan manisannya berasal dari Joseph Neal. Neal yang merupakan pengusaha manisan juga ikut mengakali mahal harga gula dengan menggunakan “daff” dalam manisan buatannya.

Pada 30 Oktober 1858. Neal menyuruh James Archer untuk mengambil “daff” di apotek milik Charles Hodgson. Setibanya di apotek asisten Hodgson yang bernama William Goddard menyuruh Archer untuk mengambil “daff” sendiri. Tak di sangka yang Archer ambil merupakan Arsenik. Dari sinilah kematian demi kematian itu berasal. Dari ketidak sengajaan hingga membuat 21 nyawa melayang dan 200 lebih mengalami keracunan.

Satu setengah abad lebih dari tragedi Bradford. Seorang lelaki dengan rambut dan kumis yang lebat menumpang penerbangan GA-974 menuju Amsterdam. Pesawat bertolak dari Jakarta menuju bandara Changi untuk Transit. Setelah itu perjalanan dilanjutkan menuju bandara Schiphol, Amsterdam.

Lelaki berkumis lebat itu akrab di sapa dengan Cak Munir. Tujuannya ke Belanda tiada lain untuk melanjutkan studinya. Ia yang bernama lengkap Munir Said Thalib dikenal sebagai aktivis yang “high profile” karena kasus-kasus yang ditanganinya melibatkan orang-orang nomor wahid baik militer maupun sipil. Ancaman demi ancaman datang mendatanginya. Hal semacam itu sudah lumrah baginya terlebih negara yang di belanya sedang panas-panasnya transisi.

Kurang dari satu jam setelah pesawat bertolak dari bandara Changi rasa mual menjalar di perut Munir. Bergegas ia menuju toilet. Menit demi menit berlalu rasa sakit dan mual tak kunjung reda malah semakin menjadi-jadi. Dengan wajah pucat pasi Munir minta dipertemukan dengan seorang dokter yang kebetulan ikut dalam penerbangan itu. Oleh dokter Tarmizi ia diberikan pertolongan.

Selasa, 7 September 2004. Pesawat melesat di langit tinggi Romania menandakan kurang dua jam lagi sampai di bandara Schiphol. Tubuh Munir menyerah dam melemas hingga akhirnya nyawa berpisah. Sesampainya di Amsterdam 10 polisi militer masuk ke pesawat. Kehadiran para PM merupakan bagian dari SOP bandara Belanda jika terdapat penumpang yang tewas.

Tiada sangka ancaman demi ancaman menjadi kenyataan. Pada 11 November 2004 sebulan lebih selepas kematian Munir. Penyebab kematian Munir menjadi jelas dan tentunya menjadi mimpi buruk tidak hanya bagi keluarga, namun juga bagi penegakan HAM di Indonesia. Dari media Belanda keluarga dan rekan mendapat kabar Munir tewas akibat diracun. Selidik demi selidik Netherland Forensic Institute menemukan kadar arsenik dalam tubuh Munir dengan dosis fatal.

Tinggalkan Balasan

Email Anda tidak akan di publikasikan. Bidang yang ditandai * harus diisi