Makan Ikan Dapat Menurunkan Resiko Penyakit Stroke!

Penyakit cerebrovascular, atau penyakit pembuluh darah di otak, merupakan kondisi yang memengaruhi pembuluh darah dan sirkulasi darah di otak, seperti stroke dan kelainan pembuluh darah.

Penyakit ini menempati urutan kedua sebagai penyebab kematian di seluruh dunia. Di Amerika Serikat penyakit ini menempati urutan ke lima dan bertanggung jawab atas kematian 37.6 dari setiap 100.00 penduduk pada 2017.

Selain mengakibatkan kelumpuhan pada tubuh, penyakit cerebrovascular dapat juga mendorong terjadinya penurunan aspek kognitif seperti demensia.

Lebih lanjut, para ahli kesehatan juga mengaitkan kerusakan subclinical cerebrovascular – yang mana merupakan kelainan yang dapat di amati pada tahap awal penyakit cerebrovascular sebelum gejala-gejalanya tampak – dengan naiknya resiko demensia.

Merubah pola hidup menjadi sehat, termasuk merubah diet, sering berolahraga dan tidak merokok, dapat mengurangi resiko penyakit cerebrovascular.

Sebagai contoh, terdapat korelasi positif antara banyaknya mengonsumsi ikan dan menurunkan resiko stroke. Ikan merupakan sumber omega-3, polyunsaturated fatty acid, yang bagus untuk kesehatan pembuluh darah di otak.

Walaupun demikian, bukti bahwa mengonsumsi ikan dapat mengurangi resiko kerusakan pembuluh darah dalam otak sebelum timbulnya penyakit cerebovascular dicampur.

Pada studi lintas seksi menelisik hubungan antara konsumsi ikan dan kerusakan pembuluh darah otak pada lansia yang sehat sebelum timbulnya penyakit cerebrovascular.

Laporan studi mengasosiasikan antara memakan ikan dua atau lebih selama seminggu dan rendahnya kelainan otak terkait kerusakan pembuluh darah di otak, terutama pada individu berumur 75 tahun ke bawah.

Evaluasi

Pada studi terkini menganalisa data yang diambil pada Maret 1999 hingga Maret 2001 sebagi bagian dari studi 3 kota, yang mana bertujuan untuk memahami hubungan antara penyakit pembuluh darah dengan demensia pada orang dengan umur 65 ke atas.

Analisa melibatkan 1.623 orang dengan rata-rata usia 72.3 dan bertempat tinggal di Dijon, Perancis. Individu akan dianulir jika mendapat diagnosis demesia, stroke dan penyakit cardiovascular.

Peneliti mengevaluasai kerusakan lebih lanjut dari subclinical cerebrovascular menggunakan MRI.

Mereka menganalisa hasil scan MRI untuk melihat tanda tanda yang diasosiasikan dengan kerusakan subclinical cerebrovascular:

  • kelainan white matter
  • infract
  • pelebaran ruang perivascular

White Matter terdiri dari nerve fibers atau axon, yang melanjutkan pesan antar bagian otak. Penyakit cerebrovascular dapat mengakibatkan penurunan axon dan merusak hingga myelin sheath yang membungkus nerve fibers. Hal ini berujung pada kelainan white matter.

Infarct merupakan bagian dead tissue yang menyebabkan tidak seimbangnya suplai darah. Hal ini seringkali diakibatkan oleh penyumbatan di pembuluh darah.

Perivascular merupakan area berisikan cairan yang mengelilingi pembuluh darah. Ketika melebar, hal ini diasosiasikan dengan penyakit pembuluh darah kecil otak.

Setiap tanda ini dapat memrediski penurunan kognitif lebih lanjut yang berakaitan dengan penyakit cerebrovascular. Walaupun demikian, studi sebelumnya menunjukkan bahwa pengukuran tunggal yang diperoleh dari penggabungan beberapa tanda penyakit cerbrovascular dapat menjadi pemrediksi dari penurunan kognitif daripada tanda tunggal.

Peneliti merujuk pada penggabungan beberapa pengukuran tanda penyakit cerebrovascular sebagai beban global penyakit cerebrovascular.

Penyakit Subclinical Cerebrovascular dan Konsumsi Ikan

Peneliti menilai partisipan yang mengonsumsi berbagai macam makanan, termasuk daging, ikan , buah dan sayuran, dengan menggunakan kuisioner.

Mereka menilai hubungan antara beban umum penyakit cerebrovascular dan frekuensi konsumsi ikan. Mereka mencatat hubungan antara konsumsi ikan yang tinggi dengan rendahnya level tanda-tanda penyakit cerebrovascular.

Lebih lanjut, kuatnya kaitan antara rendahnya tanda-tanda penyakit cerebrovascular dan frekuensi konsumsi ikan dipengaruhi oleh faktor usia. Pengaitan ini semakin kuata pada partisipan yang berumur 65-69 lebih muda dari rata-rata 72.3.

Pada partisipan yang berumur 65-69 tahun, konsumsi ikan dua atau lebih dalam satu minggu dapat mengurangi resiko penyakit cerebrovasular.

Tinggalkan Balasan

Email Anda tidak akan di publikasikan. Bidang yang ditandai * harus diisi