Bipolar Diwariskan? Kenali dan Tangani Gangguan Jiwa

Menurut National Institute of Mental Health, bipolar merupakan kondisi yang menyebabkan seseorang mengalami perubahan mood yang drastis, orang dengan bipolar biasanya memiliki fase mood tinggi atau manic dan mood rendah atau depresi.

Walaupun tiap orang berbeda-beda gejala yang dialami, yang jelas perubahan mood yang tajam ini sangat mengganggu aktivitas sehari-hari. Memengaruhi seseorang dalam bekerja hingga urusan relasi pribadi.

Sekitar 2.8% orang dewasa di Amerika Serikat mengidap bipolar. Di Indonesia data seperti ini tidak bisa di dapat. Masyarakat Indonesia pada umumnya menganggap remeh dan mengasosiasikan orang yang berobat ke psikiater hanyalah orang gila atau orang dengan schizophrenia.

Apakah Bipolar Diwariskan?

Banyak faktor yang berkontribusi pada gangguan bipolar, faktor genetik sangatlah berpengaruh.

Seseorang tidak terlahir dengan bipolar namun genetik memainkan peranan penting dalam munculnya suatu gejala. Orang dengan bipolar kemungkinan memiliki anggota keluarga yang mengidap kondisi serupa.

Pada sebuah jurnal disebutkan bahwa peneliti menemukan kaitan kuat genetik dalam gangguan bipolar. Seorang anak yang memiliki orang tua atau saudara yang mengidap bipolar maka terdapat kemungkinan sekitar 5-10% akan mengalami gejala-gejala bipolar. Seorang yang memiliki kembaran yang mengidap bipolar maka kemungkinannya naik menjadi 70%.

Pada sisi lain, kemungkinan seseorang mengalami bipolar di tengah keluarga yang tidak ada sejarah bipolar maka presentasenya sebesar 0.5-1.5%.

Menurut ahli medis, gangguan bipolar dapat melompati generasi.

Bipolar merupakan kondisi yang kompleks dan para ilmuwan masih kesulitan memahami sepenuhnya peran genetik. Kombinasi berbagai genetik yang berbeda kemungkinan besar akan menaikkan resiko.

Faktor Lain

Genetik bukanlah faktor tunggal dalam kemungkinan seseorang mengidap bipolar. Genetik bekerja bersamaan dengan kondisi lingkungan seperti kebiasaan seseorang.

Pada sebuah penelitian, peneliti mencari tahu efek kurang tidur pada orang dengan bipolar. Mereka menemukan bahwa kurangnya tidur dapat memicu fase manic. Dengan menjaga pola tidur yang baik, merupakan langkah krusial untuk menstabilkan mood orang dengan bipolar.

Penggunaan berlebihan zat seperti alkohol atau obat-obatan dapat memicu gejala gangguan bipolar seperti manic atau depresi. Sekitar 56% orang dengan bipolar memiliki rekam jejak penyalahgunaan zat.

Selain itu stres yang dihadapi bisa juga memicu gejala bipolar. Walaupun stres sendiri tidak menyebabkan bipolar.

Pilihan Perawatan

Banyak macam treatment yang dapat membantu menangani gejala-gejala yang muncul.

Pengobatan merupakan jenis perawatan yang biasa diambil. Dokter seringkali akan meresepkan mood stabilizer untuk mencegah fase manic atau depresi.

Psikoterapi merupakan pilihan lain yang bisa membantu seseorang untuk mengidentifikasi dan mengubah masalah-masalah emosi, pikiran dan perilaku. Seorang tenaga medis mental dapat membantu seseorang untuk mengatur gejala-gejala yang muncul.

Namun perlu dicatat bahwa orang pada fase manic susah untuk mendapat manfaat dari psikoterapi.

Cognitive Behavioral Therapy (CBT) merupakan salah satu terapi yang umum digunakan. Menurut American Psychological Association, CBT dapat membantu seseorang untuk menemukan pola pikiran yang menyebabkan masalah dan berpikir secara realistis.

Temui Dokter

Orang dengan bipolar biasanya tidak mengetahui bahwa dirinya mengidap bipolar. Jika kamu memiliki masalah dengan mood kamu yang mengganggu aktivitas sehari-hari atau ada keinginan untuk bunuh diri segera ke dokter.

BPJS juga men-cover pengobatan jiwa. Silahkan kunjungi faskes pertama untuk dirujuk ke psikiateratau psikolog. Jangan takut dan jangan malu, kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan badan.

Tinggalkan Balasan

Email Anda tidak akan di publikasikan. Bidang yang ditandai * harus diisi