Polusi Udara Bikin Depresi?

Selain memiliki efek buruk bagi kesehatan jasmaniah, terus menerus terpapar oleh polusi udara juga memiliki efek negatif pada kesehatan mental.

Paparan polusi udara, terutama partikel-partikel halus dapat dikaitkan dengan gangguan fungsi kognitif dan depresi.

Partikel-partikel halus yang disebut juga PM2.5 terdiri dari material yang lebih kecil dari 2.5 mikron. Partikel ini biasanya berasal kendaraan bermotor dan pabrik-pabrik.

Bagaimana bisa paparan PM2.5 meningkatkan resiko depresi belum dipahami secara jelas oleh para ilmuwan.

Begitupun, para ilmuwan belum bisa mengetahui kaitan antara polusi udara dengan faktor genetik penyebab depresi.

Individu yang memiliki faktor genetik untuk beberapa penyakit dapat menaikkan resiko kambuhnya penyakit jika terpapar zat tertentu seperti asap rokok.

Penelitian terakhir mengenai efek paparan PM2.5 dengan kombinasi faktor genetik pada depresi.

Penelitian tersebut mengungkapkan bahwa polusi udara dan interaksi genetik memengaruhi aspek kognitif dan emosi pada otak. Polusi udara mengubah ekspresi genetik yang memicu depresi.

Pengaruh Polusi

Penelitian tersebut dilakukan dengan 352 partisipan yang sehat dan bertempat tinggal di Beijing, China. Beijing memiliki polusi udara yang relatif tinggi termasuk konsentrasi PM2.5

Penelitian menitikberatkan pada beberapa varian genetik yang spesifik diasosiasikan dengan depresi pada tiap partisipan.

Untuk memperkirakan paparan PM2.5 pada tiap partisipan, peneliti menggunakan data monitoring kualitas udara yang didapat dari tiap stasiun pemantau udara yang dekat dengan rumah para partisipan selam 6 bulan sebelum penelitian dilangsungkan.

Depresi dikaitkan dengan rendahnya kemampuan kognitif dan tingginya level kecemasan. Dengan kata lain reaksi para partisipan akan situasi tertentu cenderung disikapi dengan kecemasan atau depresi.

Para ilmuwan mengevaluasi efek paparan PM2.5 pada aspek kognitif dan aspek lainnya yang dikaitkan dengan depresi.

Mereka menemukan bahwa paparan PM2.5 berkaitan dengan rendahnya aspek kognitif yang meliputi pemecahan masalah dan penalaran. Selain itu paparan PM2.5 juga menaikkan level kecemasan yang berujung pada depresi.

Implikasi

Penelitian tersebut memiliki keterbatasan. Perlu dilakukan penelitian yang lebih komprehensif untuk dapat mengidentifikasi resiko dari polusi udara dengan kesehatan mental seseroang.

Dengan adanya kaitan antara polusi udara dengan naiknya level kecemasan dan turunnya aspeknya kognitif. Perlu adanya upaya bagi tiap-tiap kota untuk menurunkan angka polusi udara.

Tinggalkan Balasan

Email Anda tidak akan di publikasikan. Bidang yang ditandai * harus diisi