Varian Baru Virus Covid-19 10% Lebih Menular!

Selama setahun lebih pandemi Covid-19 berlangsung, selama itu pula varian demi varian Sars-CoV-2 terus bermunculan, mengancam herd immunity yang hendak dicapai.

Di Inggris, varian Alpha membuat angka penularan naik tinggi selama musim dingin 2020. Sedangkan ketika musim semi 2021 giliran Delta varian yang menaikkan angka penularan.

Pada Minggu lalu Badan Kesehatan Inggris melaporkan varian baru yang merupakan turunan dari varian Delta yang disebut AY.4.2. Varian baru ini telah membuat peningkatan kasus penularan Covid-19 di Inggris dan membuat pemerintah Inggris khawatir.

Akhir September 2021, hampir 6% sekuensi genetik dari seluruh kasus penularan Sars-CoV-2 merupakan varian baru tersebut.

Menurut Prof. Francois Balloux yang merupakan direktur dari Institut Genetik University College London menyatakan bahwa varian AY.4.2 10% lebih menular daripada varian induknya Delta B.1.617.2.

Mutasi Di Spike Protein

Subvarian baru virus ini dapat dibedakan dari dua mutasi spike protein yang disebut Y145H dan A222V.

Walau demikian, dua mutasi tersebut bukan berada di reseptor pengikat, yang mana merupakan bagian spike yang mengikat reseptor tersebut dengan sel manusia.

Lebih lanjut Prof Balloux menulis di twitter “Bahkan jika AY.4.2 memang benar-benar 10% lebih mudah menular, bukan berarti kenaikan akhir-akhir ini di Inggris berasal dari varian baru itu.”

Dia menjelaskan bahwa jika varian baru 10% lebih menular dan memiliki frekuensi 10% pada populasi hal itu sama dengan kenaikan 1% kasus tiap 5 hari.

Oleh karena itu, AY.4.2 bukanlah pendorong utama atas kenaikan angka penularan di Inggris, jelas Prof. Balloux.

Pada sebuah wawancara di Science Media Centre Prof. Balloux menyatakan:

“ Ini bukan situasi yang sebanding dengan kemunculan Alpha dan Delta, [yang] jauh lebih menular — 50% atau lebih — daripada strain [varian] apa pun yang beredar pada saat itu. Di sini, kita berurusan dengan potensi peningkatan kecil dalam penularan yang tidak akan memiliki dampak yang sebanding pada pandemi.”

Acara Penyebar Virus

Prof. Christina Pagel, direktur dai Unit Penelitian Operasional Kinis UCL, menjelaskan bahwa “acara penyebar virus” seperti festival, pertandingan olahraga, konferensi Internasional merupakan penyumbang kenaikkan frekuensi varian.

Menurut sekretaris negara bidang kesehatan Inggris, Sajid Javid, memprediksi akan kasus penularan baru di seluruh Inggris dapat menyentuh 100.000 pada musim dingin tahun ini.

Menurut Prof Ravindra Gupta sebagaimana dikutip dari Medical News Today menjelaskan bahwa kasus kenaikan infeksi di Inggris sebagian besar akibat tidak divaksinnya murid-murid sekolah.

Ditambah lagi vaksin booster (vaksin ketiga) yang tidak terserap dengan cepat di masyarakat dan proporsi yang menggunakan masker ditempat publik sangat rendah.

Tetap Pakai Masker

Lebih lanjut Prof. Gupta menjelaskan bahwa varian Delta sangat mudah menular yang membuat antibodi tidak mampu melindungi mucosal surface pada respiratory tract seseorang dari infeksi ulang.

Replikasi virus yang sangat cepat menjadikan seseorang yang telah tervaksinasi dapat terinfeksi dan menyebarkan virus. Oleh karena itu penggunaan masker terutama di area umum harus tetap dipergunakan.

Tinggalkan Balasan

Email Anda tidak akan di publikasikan. Bidang yang ditandai * harus diisi