Vaksin RTS,S Disetujui WHO Malaria Akan Tinggal Kenangan

Malaria merupakan infeksi akibat gigitan nyamuk yang menjangkiti manusia sejak awal peradaban manusia. Pada abad ke 20, malaria menjangkiti 150 sampai 300 juta dengan presentase kematian berkisar 2 hingga 5 persen.

Sebuah grup Internasional yang berisikan 26 ahli penyakit malaria sebagaimana laporan yang dimuat The Lancet berusaha menghilangkan penyakit ini di muka bumi pada 2050.

Menurut Ingrid Chen, Ph.D. bahwa dengan alat yang tepat, strategi dan funding yang tepat, maka eradication penyakit malaria dapat tercapai dalam satu generasi.

Pendekatan

Paper tersebut mengungkapkan tiga cara yang dapat membantu mengeliminasi malaria dalam 30 tahun ke depan:

  • Meningkatkan pembiayaan pada penanganan malaria
  • Meningkatkan kualitas manajerial dan program penanggulangan malaria
  • Memperbaharui teknologi mulai pengawasan dan diagnosis malaria.

Rencana eradication membutuhkan pembiayaan yang besar. Menurut komisi tersebut diperkirakan biaya yang dihabiskan antara 6 hingga 8 milyar USD per tahun. Angka tersebut naik sebanyak 4.3 milyar USD dari pembiayaan saat ini.

Para peneliti menggarisbawahi bahwa pembiayaan langsung pada kepemimpinan, insentif para staff dan komunitas, dapat memudahkan dalam pengambilan keputusan.

Selain itu dengan meningkatkan kerjasama antara pemerintah dan sektor swasta dapat mendorong mempercepat penanganan.

Pada tahun 2000 WHO mengidentifikasi malaria sebagai salah satu hambatan pembangunan global, WHO menginginkan pada 2015 dapat menahan laju kasus malaria bahkan mengurangi.

Selama 15 tahun itu, berbagai usaha untuk menekan penyakit ini seperti pendistribusian insektisida, diagnosis cepat dan meningkatkan layanan kesehatan secara global mampu menurunkan kasus malaria hingga 37% dan angka kematian turun 60%.

Gejala Malaria

Malaria merupakan penyakit yang diakibatkan nyamuk betina genus Anopheles. Selain dari gigitan nyamuk, penyakit ini dapat ditularkan melalui transfusi darah dan kehamilan antara ibu dan anak. Di Indonesia penyakit ini merupakan endemik di Indonesia timur seperti Papua, NTT dan Maluku.

Penyakit ini memiliki gejala yang mirip dengan flu, seperti gemetaran, panas, pusing, otot yang sakit dan kecapaian. Beberapa memiliki gejala seperti mual, muntah dan diare. Malaria menyebabkan sel darah merah menurun, yang kemudian menyebabkan anemia dan jaudice (mata dan kulit berwarna kuning). Pada beberapa kasus, malaria dapat menyebabkan gagal ginjal, kejang, kebingungan, koma dan kematian.

Vaksin Malaria

Dikembangkan sejak 1980 vaksin malaria memang di tunggu-tunggu. Pada awal Oktober 2021 WHO menyetujui penggunaan vaksin RTS,S/AS01 yang diproduksi oleh GlaxoSmithKline (GSK). Dengan vaksin ini WHO berharap bahwa eradication malaria dapat segera terwujud.

Tinggalkan Balasan

Email Anda tidak akan di publikasikan. Bidang yang ditandai * harus diisi