Agama, Sex dan Candu Memiliki Efek Sama di Otak

Entah kamu itu atheis, agnostik maupun orang beriman, kamu akan menemukan bahwa agama memiliki efek pada otak manusia.

Percaya pada tuhan atau menganut agama akan menaikkan angka harapan hidup dan membantu untuk menangani penyakit yang menyerang.

Beberapa ilmuwan menyatakan bahwa pengalaman rohani dapat mengaktifkan bagian otak yang sama dengan sex dan obat-obatan.

Beda Agama Beda Efek

Dr. Andrew Newberg, profesor neuroscience dan direktur Research Marcus Institute of Integrative Health at Thomas Jefferson University and Hospital, Amerika, menjelaskan bahwa beda praktik dalam agama akan memiliki efek yang berbeda juga di otak.

Hal itu disebabkan karena area otak yang aktif berbeda tiap praktik keagamaan. Meditasi yang dilakukan para biksu ataupun biarawan, akan menaikkan aktivitas otak di frontal lobes.

Area ini dikaitkan dengan naiknya fokus dan atensi, kemampuan perencanaan dan kemampuan untuk meproyeksikan masa depan dan kemampuan untuk mengkontruksikan argumen yang kompleks.

Selain itu meditasi akan menurunkan aktivitas parietal lobes yang bertanggung jawab dalam pemrosesan temporal dan orientasi ruang.

Namun aktivitas kegamaan lain seperti sholat yang memiliki konsep penyerahan diri pada tuhan, menurunkan aktivitas pada prefrontal cortex dan frontal lobe.

Prefrontal cortex diketahui memainkan peran pada kontrol eksekutif, perilaku yang menggebu-gebu, pengambilan keputusan.

Oleh karenanya, peneliti memiliki hipotesa bahwa aktivitas keagamaan yang menekankan pada penyerahan diri akan menurunkan aktivitas pada bagian otak tersebut.

Candu

Studi terbaru menemukan kaitan antara praktik agama memiliki efek yang serupa dengan sex dan candu.

Peneliti yang dipimpin oleh Dr. Jeff Anderson dari University of Utah School of Medicin, menganalisa otak 19 pengikut mormon menggunakan MRI.

Ketika ditanya mengenai merasakan kehadiran tuhan, pada partisipan yang mengalami perasaan spiritual yang hebat, terdapat kenaikkan aktivitas di bilateral nucleus accumbens dan juga frontal attentional serta ventromedial prefrontal cortical loci.

Bagian otak tersebut berkaitan dengan reward-processing yang juga akan aktif ketika seseorang berhubungan sex, berjudi, memakai candu. Para partisipan melaporkan perasaan damai, dan hangat.

Penemuan ini menguatkan studi lama yang menemukan bahwa praktik keagamaan menaikkan kadar serotonin yang merupakan hormon kebahagiaan dan endorfin.

Tinggalkan Balasan

Email Anda tidak akan di publikasikan. Bidang yang ditandai * harus diisi