Kenali PTSD Untuk Hidup Yang Lebih Baik

Ketika kita mengulang situasi yang traumatik, sistem dalam tubuh akan aktif. Hypothalamus dan kelenjar pituitary akan menghasilkan hormon stres yang membuat kita fight, flee atau freeze.

Ketika situasi traumatik itu sudah lewat, maka kebanyakan orang akan cepat melupakannya. Namun bagi beberapa orang perasaan itu menetap berminggu-minggu bahkan bertahun-tahun.

Jika perasaan high alert itu menetap lama, kemungkinan kamu mengidap PTSD (Post-traumatic Stress Disorder) yang merupakan kondisi gangguan mental, yang mana jika ditangani dengan baik, gejala-gejala itu bisa diredam.

Apa Itu PTSD?

PTSD merupakan kondisi mental yang terjadi akibat mengalami atau menyaksikan situasi yang traumatik.

Orang dengan PTSD ketika terdapat hal yang memicu trauma maka akan mengaktifkan sistem saraf otomatis, yang memicu perubahan senyawa kimia di otak. Hal ini menciptakan perasaan yang terjebak dalam situasi traumatik tersebut, padahal tidak ada ancaman atau situasi traumatik itu terjadi kembali.

Penyebab PTSD?

PTSD sebelumnya dikenal dengan “shell shock” atau “battle fatigue syndrome” dan banyak orang mengasosiasikan hal itu dengan para veteran perang.

Namun, PTSD tidak hanya dialami oleh mereka yang pernah bertempur di medan perang. Namun dengan situasi-situasi tertentu dapat menyebabkan seseorang mengalami PTSD, situasi tersebut meliput:

  • bencana alam
  • kekerasan
  • situasi medis yang serius
  • kehilangan seseorang yang dicintai
  • abuse baik fisik, seksual maupun emosional
  • kecelakaan

Secara umum situasi yang menekan yang membuat seseorang merasakan ketakutan, keterkejutan, menyeramkan dan tidak berdaya dapat menyebabkan PTSD.

Faktor Pendorong PTSD

Peneliti masih belum mengetahui secara jelas kenapa seseorang mengidap PTSD sedangkan orang lain tidak. Namun terdapat beberapa faktor pendorong PTSD, meliputi:

  • tidak menemukan teman yang membantu
  • kondisi mental sebelumnya
  • pernah mengalami abuse
  • kesehatan fisik tidak baik
  • perempuan
  • mendapat kekerasan fisik

Faktor lain yang berkontribusi pada PTSD seperti mengalami situasi yang menekan setelah mengalami siatuasi traumatik, seperti diputus pacar tak lama setelah kehilangan kaki akibat kecelakaan lalu lintas.

Genetik juga memiliki peran. Dalam otak orang dengan PTSD, peneliti melihat bahwa hippocampus – bagian otak yang menangani soal ingatan dan emosi – lebih kecil dan bentuknya berbeda dengan orang tanpa PTSD.

Gejala PTSD

Biasanya beberapa hari setelah peristiwa traumatik, normalnya orang akan menangis, overwhelmed, susah berkonsentrasi. Orang dengan PTSD cenderung merasakan hal itu dalam jangka panjang, yang mengganggu aktivitas sehari-hari dan memperburuk kualitas hidup.

Gejala Intrusi

  • flashbacks terhadap trauma
  • mimpi buruk
  • memori yang tidak nyaman, intens
  • secara emosi atau fisik akan menunjukkan tanda-tanda stres ketika membicarakan trauma

Gejala Menghindar

Gejala dan perilaku orang dengan PTSD akan menghindari sesuatu yang mengingatkan akan trauma seperti:

  • orang
  • tempat
  • situasi

Selain itu orang dengan PTSD juga akan menghindari memikirkan hal-hal traumatik itu. Selain itu terdapat faktor ekternal yang mengingatkan kejadian seperti bau dan suara tertentu yang mungkin akan di hindari.

Gejala Reaksi

Gejala ini meliputi reaksi fisik ketika mengingat trauma, seperti:

  • sifat lekas marah
  • gelisah
  • susah berkonsentrasi
  • meningkatnya respon keterkejutan
  • menunjukkan kemarahan secara tiba-tiba

Gejala Mood dan Kognitif

Pikiran, keyakinan dan perasaan dipengaruhi oleh mood. Atau sebaliknya, mood diperangaruhi oleh perasaan, pemikiran, keyakinan. Pikiran yang tidak sehat juga merupakan efek dari PTSD, seperti:

  • rendah diri
  • merasakan perasaan bersalah
  • masalah ingatan
  • tidak tertarik pada hal yang disukai

Gejala Fisik

PTSD juga memiliki gejala yang mirip seperti panic attack. Beberapa gejala seperti:

  • berkeringat
  • bergetar
  • pusing
  • linglung
  • dada sesak atau nyeri
  • perut mual
  • sakit yang tidak jelas penyebabnya
  • lelah akibat gangguan tidur

PTSD Pada Anak

Tidak hanya orang dewasa yang dapat mengalami PTSD. Anak-anak pun dapat mengalami PTSD dengan gejala sebagai berikut:

  • mengompol
  • mimpi buruk
  • menggelendot pada orang dewasa
  • mengekspresikan trauma melalui permainan atau seni

Ketika kasus terdapat kekerasan seksual, anak-anak akan menunjukkan:

  • rendah diri
  • takut, sedih, isolasi
  • agresif
  • perilaku seksual yang abnormal
  • menyakiti diri sendiri
  • menyalahgunakan obat-obatan dan alkohol

Diagnosis PTSD

Untuk akurat diagnosis PTSD, beberapa kriteria harus dipenuhi:

  • Kamu menyaksikan atau melihat kematian, ancaman kematian, ancaman atau mengalami penganiayaan atau kekerasan seksual.
  • Kamu mengalami gejala-gejala intrusi, menghindar, reaksi dan gejala mood dan kognitif.
  • Gejala-gejala tersebut menetap minimal 1 bulan.
  • Gejala-gejala yang kamu alami mengganggu aktivitas sehari-hari.
  • Gejala-gejala tersebut tidak berkaitan dengan pengobatan penyakit tertentu.

Jika kamu mengalami hal-hal itu sebaiknya segera ke dokter. BPJS Kesehatan meng-cover masalah kejiwaan. Kamu bisa ke faskes pertama kamu, jika faskes pertama tidak memiliki klinik jiwa maka kamu akan dirujuk ke faskes kedua. Jangan malu, kesehatan jiwa menjadi bagian penting dalam kesehatan hidup seseorang.

Tinggalkan Balasan

Email Anda tidak akan di publikasikan. Bidang yang ditandai * harus diisi