Hati Hati Sosial Media Bisa Bikin Kamu Tidak Waras!

Penggunaan sosial media memiliki korelasi dengan penurunan kesehatan mental dan menaikkan anxiety dan depresi pada remaja dan yang menginjak dewasa.

Pada sebuah review penelitian menemukan bahwa menggunakan internet untuk berkomunikasi dan bermain game lebih dari empat jam sehari dapat kemungkinan gejala depresi pada satu tahun ke depan. Peneliti juga menemukan bahwa gejala depresi meningkat ketika penggunaan internet meningkat dan turunnya sosialisasi tatap muka.

Penelitian lain yang melibatkan 900 partisipan di Amerika Serikat menemukan kaitan antara penggunaan sosial media dengan depresi. Walaupun demikian depresi yang telah terjadi sebelumnya tidak berkaitan dengan penggunaan sosial media.

Perlu digarisbawahi keakurasian penelitian ini perlu dipertanyakan kembali karena bersandar pada pelaporan-diri yang menggunakan sosial media. Sebuah review akan 47 penelitian yang menginvestigasi keakurasian pelaporan-diri akan penggunaan digital media menimbulkan perhatian akan pelaporan-diri yang jarang menggunakan intrumen pengukuran yang jelas.

Lebih lanjut, penelitian sering tidak mengikutkan orang dewasa dalam sampel mereka, sehingga efek sosial media pada orang dewasa kurang diketahui.

Terakhir, apakah memang terdapat hubungan kasual antara penggunaan sosial media dengan depresi – dan mana yang terlebih dahulu muncul – masih belum diketahui.

Baru-baru ini penelitian melakukan survei yang mencari tahu hubungan antara penggunaan sosial media dan perkembangan gejala-gejala depresi.

Hasilnya menyebutkan bahwa beberapa sosial media memang memperparah depresi. Penemuan ini dimuat dalam JAMA Network Open.

Walaupun begitu sejumlah ahli masih meragukan bagaimana mengintrepetasikan penemuan itu.

Survei

Peneliti menganalisa hasil survei yang diambil pada Mei 2020 dan Mei 2021 dari individu yang berumur 18 tahun ke atas. Sampel survei mengikutkan jenis kelamin, umur, ras atau etnis dari 50 negara bagian di Amerika Serikat untuk mendapatkan representasi populasi Amerika Serikat.

Pertanyaan dalam survei juga mengikutkan nine-item Patient Health Questionnaire (PHQ-9) untuk menelisik gejala depresi. Pertanyaan melibatkan apakah partisipan “memiliki sedikit minat atau kesenangan dalam melakukan sesuatu” dan apakah mereka “merasakan down, depresi atau pasrah tak berdaya” dengan menggunakan skala empat poin.

Selain itu peneliti juga menanyakan apakah para partisipan mengenai:

  • penggunaan sosial media seperti Facebook, Instagram dan TikTok
  • apakah mereka mendapatkan berita mengenai Covid-19 dalam 24 jam terakhir
  • jumlah dukungan sosial ketika mendiskusikan masalah
  • jumlah pertemuan tatap muka yang miliki selain orang dalam satu rumah

Untuk analisa data, tim peneliti mengikutkan partisipan yang telah mengisi survei setidaknya dua kali dan memiliki nilai PHQ-9 kurang dari 5, yang mengindikasikan depresi ringan.

Keseluruhan 5.395 orang telah menyelesaikan dua survei. Rata-rata usia adalah 55.8 tahun dengan perempuan 65.7%, 4.7% orang Hispanic, 10.6% orang kulit hitam dan 76.3% orang kulit putih.

Dari analisa mereka, peneliti mencatat bahwa Snapchat, Facebook dan TikTok sebagaimana survei pertama mereka diasosiasikan dengan naiknya resiko laporan-diri gejala depresi.

Tinggalkan Balasan

Email Anda tidak akan di publikasikan. Bidang yang ditandai * harus diisi