Covid-19: Hubungan Antara Omikron dengan HIV

Seperti lagu lagu lama – ketika negara-negara di dunia mulai percaya diri dapat mengatasi Covid-19, kepercayaan diri itu terusik oleh varian baru yang muncul.

Varian terakhir Sars-CoV-2, Omicron, yang mana para ahli mengidentifikasi varian ini di Afrika Selatan pada 24 November 2021.

Bukti-bukti muncul bahwa varian ini telah lama ada. Walaupun pertama di identifikasi di Afrika Selatan terdapat kemungkinan bahwa varian omicron berasal dari luar Afrika Selatan.

Omicron memiliki 50 mutasi, 30 diantaranya berada di spike protein. Spike protein berguna untuk mengikat virus dengan reseptor tubuh manusia. Mutasi ini dapat memengaruhi perilaku varian, penyebaran dan keparahan penyakit.

Immunosuppression

Walaupun Sars-CoV-2 bermutasi lebih lambat dari virus lainnya, seperti HIV dan infulenza, para peneliti telah mendeteksi sekitar 200 varian secara global semenjak virus Sars-CoV-2 diidentifikasi. Dari 200 varian tersebut, hanya beberapa varian yang menjadi variant of concern (VOC).

Organisasi kesehatan dunia atau WHO pada 26 November 2021 menetapkan varian Omicron atau B.1.1.529 sebagai VOC bersandingan dengan varian Alpha, Beta, Delta dan Gamma.

Para peneliti menunjukkan bahwa pada orang yang memiliki immunosuppressed virus Sars-CoV-2 akan menetap dalam tubuh lebih lama dibandingkan orang yang memiliki fungsi imun yang baik.

Semakin lama virus berada dalam tubuh seseorang, maka akan menjadi kesempatan untuk virus bermutasi. Beberapa virologis percaya bahwa varian of concern pertama muncul pada orang yang memiliki immunosuppressed.

HIV dan Covid

salah satu teori menyatakan bahwa tingginya angka HIV di Afrika selatan menjadikan sarana yang tepat bagi virus untuk bermutasi.

Tingginya prevalensi HIV di Afrika Selatan mungkin berkontribusi pada evolusi varian Omicron. Namun penting untuk diketahui bahwa HIV bukan satu-satunya penyakit yang membuat immunosupression pada orang.

Menurut UNAIDS, di Afrika Selatan pada 2020, 1 dari 5 orang dalam rentang usia 15-45 tahun positif HIV. Kurang dari 70% yang menjalani ART, yang berguna untuk mengembalikan sistem kekebalan tubuh.

Menurut Dr. Moritz Gertung, sebagaimana dikutip dari Medical News Today menyatakan bahwa “kemunculan beberapa varian Sars-CoV-2 yang mengkhawatirkan di wilayah selatan benua Afrika menunjukkan bahwa HIV merupakan faktor pendorong.

Tinggalkan Balasan

Email Anda tidak akan di publikasikan. Bidang yang ditandai * harus diisi