Jangan Suka Diskriminasi Orang!

Menurut penelitian terbaru dari University of California, Los Angeles orang muda yang berusia 18 hingga 28 tahun yang mengalami diskriminasi berulang-ulang memiliki resiko tinggi jangka pendek maupun jangka panjang masalah kesehatan mental dan perilaku.

Ketika studi sebelumnya telah mengaitkan berbagai tipe diskriminasi dengan kenaikan resiko penyakit mental, tekanan psikologis dan penggunaan obat-obatan, pada penelitian terbaru ini yang mana telah dipublikasikan pada jurnal Pediatrics, merupakan yang pertama memfokuskan pada periode young adults atau orang muda dengan terus melakukan follow up pada partisipan yang sama selama 10 tahun.

Menurut Yvonne Lei, mahasiswa medis pada David Geffen School of Medicine di UCLA sebagaimana dikutip dari everydayhealth menyatakan bahwa “75 persen masalah kesehatan mental muncul pada usia 24 tahun, masa transisi dewasa ini merupakan waktu yang krusial untuk mencegah masalah kesehatan mental dan perilaku”.

Peneliti mengamati 1.834 orang dwasa dengan menggunakan data dari tahun 2007 hingga 2017 dari University of Michigan’s Transition to Adulthood Supplement of the Panel Study of Income Dynamics Survey. Partisipan berusia 18 hingga 28 tahun, 53% merupakan laki-laki, 67% merupakan orang kulit putih, 15% orang kulit hitam, 14% merupakan orang Amerika Latin, 3% orang Asia Amerika, orang Hawaii atau orang pulau-pulau di Pasifik.

Pengalaman diskriminasi di ukur menggunakan skala diskriminasi sehari-hari, yang mana merupakan pengukuran yang diakui dan dipakai secara luas untuk mengukur diskriminasi. Pertanyaan-pertanyaan yang muncul meliputi seberapa sering…:

  • Kamu diperlakukan kurang sopan?
  • Kamu menerima pelayanan yang kurang memuaskan?
  • Kamu diperlakukan seperti orang bodoh?
  • Kamu ditakuti oleh orang lain?
  • Kamu dianggap tidak jujur?
  • Kamu direndahkan dan orang lain menganggap mereka lebih superior?

Peneliti menemukan sekitar 93% partisipan pada penelitian tersebut melaporkan diskriminasi yang mereka dapat. Yang merupakan faktor umum yang mereka laporkan adalah umur (26%), penampilan fisik (19%), jenis kelamin (14%) dan ras (13%).

Sepenuturan Adam Bennett Schickedanz, MD, Ph.D., yang juga peneliti dan pediatrician pada Departemen Pediatrik UCLA sebagaimana dikutip dari everydayhealth “partisipan yang sering mengalami diskriminasi — beberapa kali dalam sebulan – terdapat sekitar 25% kemungkinan didiagnosis dengan penyakit mental dan dua kali lipat kemungkinan mengalami tekanan psikologi parah dibandingkan orang yang mengalami diskriminasi serupa namun lebih jarang – beberapa kali dalam setahun –.

Lebih lanjut “ orang muda yang mengalami diskriminasi entah seberapa sering akan menaikkan resiko masalah kesehatan 26% lebih banyak daripada mereka yang tidak melaporkan diskriminasi.

Selama studi 10 tahun itu, orang muda yang mengalami bertahun-tahun berbagai diskriminasi dalam frekuensi tinggi menunjukkan resiko komulatif yang lebih jelas dari masalah mental, tekanan mental, penggunaan obat-obatan dan kesehatan fisik maupun mental yang buruk.

Tinggalkan Balasan

Email Anda tidak akan di publikasikan. Bidang yang ditandai * harus diisi