Omicron Berevolusi di Tikus!

Pada 24 November 2021 lalu, para ilmuwan di Afrika Selatan menemukan mutasi varian virus Sars-Cov-2 yang perlu untuk diperhatikan.

Laporan mengenai varian yang menyebar secara cepat di Afrika Selatan itu memiliki sejumlah besar mutasi yang tidak biasa, yang memungkinkan virus menyebar lebih efektif daripada varian lain.

Hanya dalam hitungan hari laporan para peneliti tersebut langsung ditanggapi oleh WHO dengan mendeklarasikan varian baru, yang disebut Omicron.

Kekhawatiran para ilmuwan terbukti benar, awal Januari 2022 ini, varian Omicron menyebar secara luas dan menaikkan angka infeksi di seluruh penjuru dunia.

Banyaknya mutasi yang terjadi dengan varian Omicron ini, para ahli mengidentifikasikan mutasi yang tidak biasa sebagaimana varian-varian lain.

Hal tersebut masih menjadi teka-teki di kalangan ilmuwan karena tidak diketahuinya varian intermediate atau varian penyambung yang dapat menjelaskan bagaimana Omicron berevolusi. Seperti tiba-tiba muncul tanpa ada jalur evolusi.

Berikut ini beberapa teori mengenai munculnya virus varian Omicron:

  • Varian telah berevolusi di populasi tanpa disadari oleh para ilmuwan, kemungkinan besar dalam populasi di mana pengawasan dan sekuensi virus hampir atau tidak ada.
  • Evolusi terjadi pada seseorang yang mengalami infeksi virus Sars-CoV-2 dalam periode yang panjang, kemungkinan karena masalah sistem kekebalan tubuh yang sangat rendah, seperti pengidap HIV.
  • Kemungkinan juga evolusi terjadi dalam spesies hewan lain, sebelum menginfeksi spesies manusia.

Teori kedua, merupakan teori yang paling populer di kalangan para ahli. Namun beberapa ahli menyanggah hal tersebut.

Sanggahan yang mereka ajukan dengan melihat virus influenza yang menginfeksi penderita sistem kekebalan tubuh rendah. Ketika menginfeksi orang yang memiliki kekebalan tubuh rendah virus cenderung berevolusi menjadi lebih susah untuk menyebar.

Perlu diperhatikan, varian virus ini cenderung lebih mudah menginfeksi daripada varian lainnya.

Mutasi dalam Tikus

Peneliti dari Chinese Academy of Sciences di China menemukan bukti bahwa varian Omicron bermutasi dan berevolusi di tikus.

Mereka menyakini bahwa varian sebelumnya B.1.1 menyebar dari manusia ke tikus pada pertengahan 2020. Sejalannya waktu, virus berevolusi dalam populasi tikus sebelum menyebar kembali ke manusia.

Mereka mengidentifikasikan 45 titik mutasi dalam RNA Omicron, titik mutasi terjadi ketika satu pasang base berubah.

Penelitian sebelumnya, menyatakan bahwa RNA virus cenderung untuk memiliki mutasi yang lebih banyak di base tertentu.

Bersandarkan pada hal itu, peneliti di Chinese Academy of Science, telah mengidentifikasikan “tanda” mutasi pada berbagai spesies yang menjadi inang virus Sars-Cov-2.

Dalam laporan penelitian, mereka menemukan bahwa titik mutasi yang ada di Omicron cenderung berevolusi di dalam tikus daripada di manusia.

Mereka menemukan “tanda” mutasi Omicron yang berbeda dengan beberapa varian lain yang diketahui bermutasi menggunakan inang manusia.

Selain itu mereka juga menemukan terjadinya mutasi pada spike, yang membuat virus lebih mudah menginfeksi sel inang. Penelitian mereka dipublikasikan pada Journal of Genetics and Genomics.

Tinggalkan Balasan

Email Anda tidak akan di publikasikan. Bidang yang ditandai * harus diisi