Kamu Kesepian, Coba Baca Ini Dulu

Perkembangan teknologi di dunia ini, mempercepat laju komunikasi dalam masyarakat. Ketika belum ada kendaraan bermotor orang yang ingin mengirim pesan ke orang lain di tempat yang jauh maka pesan tersebut di kirim menggunakan kuda atau berjalan kaki bahkan.

Ketika ditemukannya kendaraan bermotor maka orang lebih cepat dalam berpindah dan saling berkirim pesan. Terlebih ketika alat komunikasi jarak jauh seperti radio, telegraf, hingga kiwari ini, internet.

Ketika laju komunikasi semakin cepat bahkan saat ini bisa dibilang keterlaluan cepatnya hingga bisa disebut real time maka seharusnya orang akan menjadi lebih intim ketika berkomunikasi jarak jauh.

Namun faktanya berbanding terbalik, pesan teks, suara, sampai audio visual yang terlewat cepat ini mengisolasi manusia. Memprivatkan hal-hal yang sebelumnya bersifat publik. Terlebih ketika terjadinya pandemi Covid-19.

Dari hal itu terbitlah kesepian, kesepian bukanlah hal yang remeh. Menurut laporan penelitian yang dimuat dalam The Journal of Gerontology series b menjelaskan bahwa kesepian meningkatkan resiko demensia hingga 40%.

Penelitian lain yang dimuat dalam Antioxidants & Redox Signaling menyatakan bahwa kesepian meningkatkan resiko terjadinya penyakit-penyakit yang berhubungan dengan jantung. Dus, menaikkan resiko kematian.

Sering kali istilah kesepian ditukar dengan isolasi sosial, terdapat perbedaan mendasar mengenai dua istilah itu. Kesepian atau loneliness merupakan perasaan tidak dapat menyambung atau disconnected dengan orang lain, walaupun secara fisik dekat dengan orang lain.

Sedangkan isolasi sosial merupakan ketiadaan atau kekurangan kontak dengan individu lain. Penelitian terbaru yang mengamati hubungan manusia dengan teknologi terkini, lebih khususnya sosial media, menyebutkan bahwa teknologi komunikasi menjadi semacam pisau bermata dua.

Sosial media mendekatkan menghubungkan namun juga menjauhkan mengisolasikan manusia. Walau begitu terdapat cara-cara yang bisa dilakukan untuk menjaga agar isolasi sosial tidak sampai mengakibatkan kesepian yang merusak jiwa dan raga.

Fokus Pada Hal Yang Kamu Bisa!

Isolasi dan perasaan kesepian yang dapat memicu depresi. Ketika kita terisolasi dan merasakan perasaan sedih, down, kita akan merasakan bahwa segala hal menjadi ruwet dan susah untuk dijinakkan atau dikontrol.

Kontrol merupakan hal yang penting dalam kesehatan jiwa seseorang. Sebuah penelitian memperlihatkan bahwa ketika seseorang merasa memiliki kontrol atas keadaan dan lingkungannya maka cenderung akan merasakan rasa puas, bahagia dan tahan terhadap tantangan.

Cobalah kamu mulai dari hal kecil, seperti bersih-bersih rumah atau jika kamu memiliki hobi yang kamu tinggalkan cobalah untuk memulai kembali hobi itu. Fokuslah pada hal yang kamu lakukan itu maka sense of control akan muncul.

Selain itu hindari sebisa mungkin sosial media, gunakan sosial media hanya untuk keperluaan pekerjaan atau komunikasi penting dengan keluarga atau teman. Cobalah gunakan smartphone itu untuk hal-hal yang lain seperti menonton film atau mendengarkan lagu.

Soal mendengarkan lagu atau menonton film, dua hal itu merupakan bagian aktivitas yang menghibur. Selain dua hal itu, untuk menghibur diri kamu, kamu bisa lakukan hal-hal yang menyenangkan lainnya seperti berjalan-jalan di sore hari atau melihat gebyar bintang di malam hari.

Yang terakhir yang harus kamu lakukan untuk melawan kesepian adalah mengobrol. Cobalah kunjungi teman-teman dekat kamu, atau tetangga kamu, ajak mereka mengobrol bicarakan apa saja. Jika kamu merasa kikuk atau malas kamu bisa mengunjungi psikiater.

Perlu diketahui bahwa psikiater/psikolog itu bukan hanya menangani schizhophrenia katatonik semata, namun juga masalah mental lainnya. BPJS Kesehatan juga menanggung kok, jadi jangan sungkan ya. Tetap sehat jiwa dan raga!

Tinggalkan Balasan

Email Anda tidak akan di publikasikan. Bidang yang ditandai * harus diisi