DeltaCron Varian Virus Baru Yang Diperdebatkan!

Pada 7 Januari kemarin, peneliti-peneliti di Cyprus melaporkan temuan varian baru Sars-CoV-2. Varian tersebut dinamai dengan Deltacron, yang kantanya merupakan perpaduan antara varian Delta dan varian Omicron.

Peneliti yang digawangi oleh Dr. Leonidios Kostrikis, yang juga profesor Biological Sciences di Universitas Cyprus.

Dr. Kostrikis melaporkan bahwa varian anyar tersebut memiliki gnome yang seperti varian Delta namun dengan karakteristik yang mirip dengan Omicron. Tim peneliti menyatakan bahwa varian Deltacron ini sudah menginfeksi 25 individu.

Kontaminasi

Identifikasi Deltacron ini memicu berbagai perdebatan dan pemberitaan yang sudah begulir sedimikian besarnya di sosial media, namun para ahli mengenai virus memiliki pertanyaan juga mengenai temuan itu.

Dr. Jeffrey Barret, Direktur COVID-19 Genomics Initiative di Wellcome Sanger Institute, Inggris, menyakini bahwa hal ini merupakan kesalahan yang bersumber dari laboratorium yang menemukan varian baru tersebut.

Menurutnya, hal ini jelas bukan akibat adanya kombinasi biologi dari turunan Delta dan Omicron. Karena mutasi dari Omicron terletak tepat secara khusus berada di sekuensi kode gen spike (asam amino 51 hingga 143) yang mana hal itu dipengaruhi oleh artefak yang berasal dari prosedur sekuensi tertentu.

Ahli lain juga menolak varian baru tersebut. Dr. Tom Peacock, ahli virus pada Imperial College London, Inggris, menegaskan bahwa penemuan varian baru tersbut hanyalah akibat yang jelas dari kontaminasi.

Dia juga menjelaskan kontaminasi atau kesalahan ini belum tentu akibat dari kecerobohan atau kegagalan prosedur lab itu. Yang jelas hal-hal semacam ini dapat terjadi di lab manapun yang melakukan sekuensi.

Beberapa ahli lainnya juga menyatakan keraguan atas penemuan varian baru tersebut. Jika benar varian baru muncul akibat kombinasi, maka sampel seharusnya terklaster pada cabang yang sama dalam pohon phylogenetic Sars-CoV-2.

Namun varian baru ini muncul dalam berbagai cabang secara acak, yang mana para ahli tersebut menyakini merupakan tanda-tanda adanya kontaminasi.

Pembelaan

Walaupun bergitu, Dr. Kostrikis membela temuannya. Dia menegaskan karena tingkat infeksi Deltacron yang lebih tinggi di pasien yang dirawat inap dibandingkan pasien yang tidak menjalani rawat inap, menjelaskan bahwa hipotesa mengenai kontaminasi kecil kemungkinannya.

Selain itu, sampel yang diidentifikasi merupakan varian baru Deltacron telah menjalani proses sekuensi berkali-kali dan di lebih dari satu negara, menyingkirkan kemungkinan terjadi kesalahan yang dilakukan oleh pihak laboratorium.

Perlunya Penelitian dan Bukti Lanjutan

Berbagai perdebatan mengenai adanya varian Deltacron ini, membuat para ahli harus melakukan penelitian yang lebih lanjut. Selain itu diperlukan pengumpulan bukti-bukti lanjutan supaya penanganan mengenai virus penyebab Covid-19 segera dilakukan.

Tinggalkan Balasan

Email Anda tidak akan di publikasikan. Bidang yang ditandai * harus diisi