Resiko dan Manfaat Nyimeng

Efek akibat kebanyakan nyimeng atau keracunan ganja pada kemampuan kognitif seseorang masih belum diketahui secara gamblang. Sejauh ini penelitian mengenai efek ganja menggunakan metodologi cross-sectional, sedangkan penelitian yang lebih rigid menggunakan metodologi longitudinal, jarang dilakukan. Selain itu masalah lain seperti standarisasi dalam meneliti masih kurang.

Peneliti kiwari ini sering menggunakan metodologi meta-analysis yang mana metode ini mencari pola dalam berbagai data penelitian-penelitian yang pernah dilakkukan. Mengenai efek ganja, para peneliti dari Université de Montréal, Kanada menggunakan metode ini dengan menganalisa 10 penilitian meta-analysis dengan total partisipan 43.761 orang. Tujuan penelitian ini untuk mencari tahu efek keracunan ganja pada fungsi kognitif.

Efek Samping

Hasil analisa yang dilakukan oleh para peneliti dari Université de Montréal, menyatakan bahwa terdapat bukti bahwa keracunan ganja dapat memicu gangguan kognitif baik dalam sekala minor hingga moderat tergantung pada tipe kognitifnya.

Namun selain bahaya yang mengancam kemampuan kognitif akibat terlalu banyak memakai ganja terdapat sisi positif jika digunakan sebagai mana mestinya.

Penelitian lain yang dilakukan oleh National Academies of Science, Enginering and Medicine menyatakan bahwa terdapat berbagai manfaat positif jika ganja digunakan dengan baik. Salah satu manfaatnya berguna untuk meredakan rasa sakit pada penderita penyakit kronis. Ganja yang komposisi aktifnya adalah cannabinoids, merupakan zat yang mempengaruhi receptor otak sehingga dapat meredakan rasa sakit.

Manfaat

Publikasi yang dimuat dalam jurnal Clinical Psychology Review menemukan bahwa menggunakan ganja dapat membantu pecandu obat dan alkohol untuk melawan kecanduannya. Namun dalam tidak semua peneliti setuju mengenai penemuan tersebut. Sebagaimana laporan dari National Academies of Science, Enginering and Medicine yang menyatakan bahwa ganja meningkatkan angka kecanduan.

Food and Drug Administration (FDA) atau BPOM-nya Amerika telah menyetujui obat yang mengandung cannabidol (CBD) untuk digunakan pada pasien yang memiliki dua penyakit epilepsi langka yang disebut Lennox-Gastaut syndrome dan Dravet syndrome. Dua tipe epilepsi itu diketahui susah untuk dikontrol dengan jenis obat lain. Obat yang mengadung CBD ini bernama Epidiolex.

Salah satu penelitian yang mendukung langkah FDA mengizinkan obat yang mengandung CBD dipublikasikan oleh The New England Journal of Medicine. Dalam penelitian tersebut diketahui bahwa penggunaan CBD dapat menurunkan angka kejang pada anak-anak yang memiliki Dravet syndrome.

Kesimpulan

Perlu untuk dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai manfaat dan resiko dari penggunaan ganja. Di Indonesia penggunaan ganja untuk tujuan medis-pun hingga saat ini masih dilarang. Hal yang paling berbahaya mengonsumsi ganja di Indonesia adalah penjara.

Tinggalkan Balasan

Email Anda tidak akan di publikasikan. Bidang yang ditandai * harus diisi