Ancaman AMR Bagi Kesehatan Dunia

Resistensi atau tidak manjurnya obat atau dalam bahasa Inggris disebut antimicrobial resistance (AMR) dalam mengobati suatu penyakit menjadi tantangan bagi kesehatan secara global. Menurut WHO ancaman ini disebabkan oleh munculnya bakteri baru yang tahan terhadap obat antibiotik sehingga menjadi sulit untuk mengobati infeksi. Selain itu mengancam keamanan operasi bedah dan perawatan atau pengobatan medis lainnya.

Sebuah penelitian memperkirakan bahwa resistensi antibiotik yang ada saat ini mengakibatkan sekitar sepuluh juta orang pertahun pada 2050. Penelitian lain yang dipublikasikan pada The Lancet, menunjukkan bahwa resistansi antibiotik mengakibatkan kematian sekitar 1.27 juta pada 2019, secara global.

Angka kematian ini paling banyak terjadi ketika sumber daya kesehatan yang minim. Menurut Dr. Christopher Murray, direktur Institute for Health Metric and Evaluation di University of Washington, Amerika Serikat menyatakan bahwa penemuan dari penelitian-penelitian mengenai resistensi antibiotik menjadi tanda bahwa perlunya program untuk mengontrol dan mencegah terjadinya resistensi antibiotik serta perlunya penelitian untuk menemukan vaksin atau obat antibiotik baru.

Penelitian yang dilakukan oleh Global Research on AntiMicrobial resistance (GRAM), merupakan penelitian pertama yang memberikan gambaran secara lengkap mengenai kematian akibat resistensi mikroba secara global. Penelitian ini meneliti berbagai jenis bakteri dan obat antibiotik di benua Eropa dan Zona Ekonomi Eropa pada 2015.

Estimasi AMR

Menurut European Centre For Disease Prevention And Control memperkirakan bahwa infeksi akibat resistensi antibiotik akan meningkat dari 17% pada tahun 2015 menjadi 19% pada tahun 2030. Selain itu setiap tahunnya terjadi 670 ribu infeksi akibat resistensi antibiotik di Eropa dan Zona Ekonomi Eropa saja.

Penelitian pada 2019 di atas meniliti dampak AMR di 204 negara dan wilayah. Data yang dikumpulkan dari berbagai sumber baik publikasi di jurnal, uju coba klinis, sistem pengawasan kesehatan, hasil diagnosa laboratorium dan data dari rumah sakit dari seluruh wilayah.

Penelitian yang dibiayai oleh Bill & Melinda Gates Foundation, Wellcome Trust dan Departemen Kesehatan dan Perawatan Sosial memperkirakan bahwa kasus kematian dan disabilitas AMR akibat dari 23 bakteri dan 88 kombinasi obat antibiotik. Terdapat batasan atau limitasi pada penelitian tersebut terutama data yang bersumber dari negara berpenghasilan rendah.

Dari penelitian itu juga ditemukan bahwa negara atau wilayah yang paling terdampak akibat AMR adalah wilayah barat sub-sahara di Afrika dengan tingkat kematian 27.3 kematian per 100 ribu kasus. Sedangkan wilayah yang paling sedikit adalah Australasia dengan kematian 6.5 per 100 ribu kasus. Dan enam pathogen yang paling bertanggung jawab atas kematian itu adalah (Escherichia coli, Staphylococcus aureus, Klebsiella pneumoniae, Streptococcus pneumoniae, Acinetobacter baumannii, and Pseudomonas aeruginosa).

Kesimpulan

Dari data diatas dapat dilihat bahwa tingkat kematian berkolerasi dengan pendapatan suatu negara. Di mana semakin rendah pendapatan negara itu maka tingkat kematian menjadi tinggi dan sebaliknya. Oleh karena perlu adanya pemerataan pembangunan terutama di negara-negara di Afrika. Selain itu juga perlu adanya kolaborasi global sebagaimana kolaborasi dalam meredam angka infeksi dan kematian akibat Covid 19.

Tinggalkan Balasan

Email Anda tidak akan di publikasikan. Bidang yang ditandai * harus diisi