LSD Atau Nyimeng?

LSD atau lysergic acid diethylamide merupakan obat yang menyebabkan perasaan halusinasi dan hingga saat ini banyak negara yang melarang penggunaannya.

Pertama kali berhasil disintetiskan oleh ahli kimia Swiss, Albert Hofman pada 1938 dengan tujun untuk meringankan gejala depresi. Pada 1943 secara tidak sengaja dia menemukan efek halusinogen ketika senyawa LSD terserap melalui kulitnya.

Lima belas tahun kemudian, LSD digunakan sebagai anastesi. Budaya tanding, generasi bunga, pada tahun 1960 menggunakan LSD sebagai obat rekreasi.

Ketika 1967, produksi LSD dihentikan, hal ini diakibatkan banyaknya kekerasan dan perilaku psikosis yang diakibatkan oleh LSD. Oleh pemerintah Amerika Serikat obat ini diklasifikasikan sebagai schedule 1 yang berarti tidak izinkan untuk digunakan dalam bidang kesehatan.

LSD merupakan obat sintetis yang dikombinasikan dari jamur yang disebut ergot dan senyawa kimia yang disebut diethylamide. Obat ini bekerja dengan menstimulasi produksi serotonin pada otak yang mana hal ini mengaktifkan reseptor serotonin.

Reseptor ini membantu melihat serta mengintrepertasikan dunia nyata. Dengan penambahan serotonin makan akan memberikan stimulus tambahan yang harus diproses oleh otak. Umumnya otak mampu menyaring stimulus yang tidak relevan, namun karena pengaruh LSD menjadikan otak tidak mampu lagi menyaring stimulus itu.

Kelebihan stimulus menyebabkan perubahan dalam perilaku, atensi, persepsi serta emosi. Hal tersebut mengakibatkan terjadinya halusinasi di mana otak kesulitan untuk membedakan imajinasi dan dunia nyata.

Psychedelic Brain in Vivid Colors. 3D rendering

Efek LSD

LSD dapat memicu berbagai perubahan persepsi, seringkali persepsi visual, sentuhan, emosi, serta pikiran. Efek visual, seperti terang, warna menjadi tajam, pengelihatan blur dan perubahan bentuk serta warna objek. Perubahan sentuhan, seperti gemetar, tekanan, dan kepala terasa ringan.

Selain efek yang mempengaruhi indera manusia, efek lain mempengaruhi kemampuan kognitif seperti distorsi akan waktu, kemampuan berfikir, bisa lebih cepat, bisa pula lebih lambat. Perubahan mood yang terasa, seperti euforia hingga despair atau keterputusasaan.

LSD tidak berbau dan bewarna, dalam jumlah sedikit saja sekitar 1 gram akan memberikan efek penuh dari obat ini. Halusinasi terjadi sekitar 60 menit setelah menggunakan obat ini dan mampu bertahan 6 hingga 12 jam.

Selain efek diatas dalam penggunaan jangka pendek LSD juga akan mempengaruhi tubuh seperti pusing, mulut kering, berkeringat, mati rasa, letih.

Pada jangka panjang, LSD dapat memicu resiko terjadinya psikosis yang mana tidak dapat membedakan antara realitas dan imaginasi.

Kesimpulan

Beberapa tenaga kesehatan dan para ilmuwan menginginkan reklasifikasi obat ini. Mereka berpendapat bahwa LSD memiliki potensi yang berguna untuk aplikasi klinis. Pada 2016 beberapa peneliti mengajukan bahwa satu dosis halusinogen dapat mengurangi gejala anxiety dan depresi pada pasien dengan kanker. 29 pasien yang mengikuti uji-coba itu menunjukkan penurunan angka depresi dan anxiety dibandingkan pasien yang tidak menggunakan LSD.

Tinggalkan Balasan

Email Anda tidak akan di publikasikan. Bidang yang ditandai * harus diisi