Apa Itu Placebo?

Mungkin kamu sering mendengar placebo disebutkan di media, terutama ketika sedang dilakukan uji coba fase ketiga vaksin Sinovac tahun lalu. Sudahkah kamu mengerti apaan itu placebo? Placebo dalam uji coba klinis seperti uji coba fase ketiga dalam vaksin adalah cairan yang tidak memiliki efek sama sekali untuk disuntikan pada sebagian partisipan. Sebagian partisipan lainnya disuntik vaksin yang hendak diuji coba. Placebo berperan penting ketika para peneliti mendesain uji coba klinis. Sebab placebo dapat memberikan efek pada seseorang karena seseorang itu percaya bahwa yang disuntikkan ke dalam tubuhnya adalah vaksin betulan, hal ini oleh para peneliti disebut dengan placebo effect. Oleh karena itu penting ketika uji coba suatu obat disertakan placebo, hal ini dilakukan agar peneliti benar-benar tahu bahwa obat atau vaksin baru itu memang ampuh bukan karena placebo effect. Para peneliti klinis harus memperhitungkan placebo effect ini sebab menurut sebuah penelitian, placebo effect dapat mengurangi gejala berbagai macam penyakit, termasuk Parkinson, depresi, cemas dan kelelahan. Walau demikian, para peneliti belum benar-benar mengerti kenapa placebo effect dapat memainkan peranan penting. Salah satu kekuatan placebo bersandarkan pada ekspetasi atau harapan individu itu sendiri. Harapan inilah dapat menurunkan hormon stres atau bisa juga mengubah kategori gejala yang diderita. Ketika seseorang tidak berharap atau menganggap obat yang diminumnya tidak bekerja atau malah memperparah suatu penyakit. Maka individu itu bisa mengalami nocebo, efek negatif lawan dari placebo. Otak memainkan peran penting, menurut penelitian yang dipublikasikan oleh the American Journal of Psychiatry orang yang memiliki depresi ketika diberikan placebo kemanjuran placebo tersebut sekitar 50-75%, selain itu placebo mampu mengubah fungsi otak seingga otak meresponnya dengan meningkatkan produksi dopamin. Dalam penelitian lain, para partisipan yang mengikuti penelitian tersebut dibagi menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama diberi tahu bahwa obat yang didapat mengobati disfungsi seksual pada laki-laki. Sedangkan kelompok diberi tahu bahwa yang mereka terima bisa berupa obat disfungsi seksual bisa juga placebo. Kelompok ketiga diberi tahu bahwa yang mereka terima berupa placebo. Faktanya ketiga kelompok itu menerima placebo semua, namun hasilnya semua kelompok mengaku bahwa masalah disfungsi seksual mereka membaik. Penggunaan Placebo Dokter di seluruh dunia menggunakan placebo untuk tujuan klinis sebab efek yang dihasilkan dari placebo itu sendiri. Sebuah penelitian pada 2008 di Denmark menemukan bahwa 48 persen dokter meresepkan placebo setidaknya 10 kali dalam setahun. Penelitian lain di Israel, sekitar 60 persen dokter meresepkan placebo bagi pasien yang dianggap tidak memiliki masalah medis atau unjustified medication dan pasien yang membutuhkan ketenangan. Oleh karena banyaknya sisi positif dari penggunaan placebo saat ini banyak peneliti yang mencari cara untuk mendapatkan dan menggunakan kekuatan placebo effect.

Tinggalkan Balasan

Email Anda tidak akan di publikasikan. Bidang yang ditandai * harus diisi