Paten dan Perusahaan Farmasi Adalah Vampir Millenial

Semenjak Juni 2021, WHO telah mengelola pusat transfer teknologi vaksin mRNA di Afrika Selatan.

Pusat transfer ini penting karena dapat meningkatkan ketersediaan vaksin mRNA, termasuk vaksin Covid-19 di Afrika. Hal ini disebabkan sedikitnya akses vaksin di wilayah Afrika jika dibandingkan dengan negara-negara utara seperti negara di Eropa dan Amerika Utara.

Pada investigasi terbaru yang dilakukan oleh jurnal BMJ memperlihatkan bahwa para konsultan yang dipekerjakan oleh perusahaan farmasi BioNTech memandang remeh usaha-usaha yang dilakukan oleh pemerintah Afrika Selatan mengenai pusat transfer vaksin mRNA.

Pusat Transfer Teknologi

Pusat transfer teknologi yang digagas oleh WHO menggunakan informasi yang bersifat publik mengenai vaksin Covid-19 buatan Moderna untuk mengembangkan vaksin sejenis yang dapat diproduksi secara murah dan cepat ditrisbusikan di wilayah Afrika.

Pusat transfer ini didukung oleh Africa Centres for Disease Control and Prevention, Medicine Patent Pool dan South Africa Medical Research Council. Nantinya vaksin akan diproduksi oleh perusahaan farmasi Afrigen Biologics dan BioVac Institute.

Menurut Prof. David Walwyn, guru besar pada University of Pretoria’s Graduate School of Technology Management di Afrika Selatan, pusat transfer yang sedang dibangun akan dapat mengembangkan vaksin mRNA secara generik bagi perusahaan farmasi lokal. Jika usaha ini berhasil, makan akan meningkatkan akses vaksin dengan biaya murah bagi wilayah-wilayah kritis.

Selain itu, Prof. Walwyn menjelaskan bahwa hal tersebut sangat penting, mengingat vaksin merupakan program kesehatan masyarakat, dengan biaya murah yang efektif untuk dapat menangani penyakit menular secara luas. Saat ini, vaksin-vaksin baru umumnya dilindungi oleh paten, sehingga tidak ada persamaan generiknya. Oleh karena itu, ketersediaan terbatasi dan harganya mahal.

Direktur jenderal WHO, Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, menjelaskan bahwa pusat transfer ini merupakan kabar baik, terutama bagi negara-negara di Afrika, yang mana paling sulit mengakses vaksin. Pandemi Covid-19 membukakan mata dunia betapa pentingnya produksi lokal obat dan vaksin untuk menangani masalah kesehatan darurat masyarakat, menguatkan keamanan kesehatan regional dan memperluas keberlangsungan akses produk-produk kesehatan.

Meremehkan Pengembangan Vaksin Publik

Walau begitu kENUP Foundation, NGO yang mana disewa oleh perusahaan farmasi BioNTech sebagai konsultan, tidak senang dengan kehadiran pusat transfer yang diinisiasi oleh WHO.

BMJ melaporkan bahwa NGO tersebut mengunjungi Afrika Selatan pada 11-14 Agustus 2021, yang mana setelah kunjungan tersebut memberikan laporan pada pemerintah Afrika Selatan.

Dalam laporan tersebut NGO ini menyatakan bahwa “proyek Pusat Transfer Teknologi WHO meniru proses pembuatan vaksin Covid-19 buatan Moderna oleh karenanya harus segera dihentikan. Hal ini bertujuan untuk mencegah rusaknya Afrigen, BoiVac dan Moderna”.

Masih dalam laporan tersebut NGO tersebut juga menyatakan bahwa rilis paten yang dilakukan oleh Moderna hanya untuk pandemi ini saja, sehingga keberlangsungan proyek WHO tersebut bertentangan.

Menurut Prof. Walwyn, hal tersebut seputar NGO kENUP Foundation yang mana memiliki kaitan erat dengan BioNTech hanyalah seputar keuntungan semata, karena dengan memperluas perlindungan paten mencegah perusahaan farmasi untuk membuat vaksin atau obat generik.

Hal tersebut juga ditandaskan oleh Medicines Patent Pool yang menyoroti bahwa rekomendasi dari NGO tersebut tidak berdasar, sebab pusat transfer teknologi yang ada di Afika tidak akan memproduksi vaksin atau obat yang memiliki perlindungan paten. Selain itu model yang membangun pusat transfer teknologi hanyalah partisipasi para pemegang paten.

Kesimpulan

Kerakusan adalah jati diri manusia yang mana merupakan musuh kemanusiaan. Jonas Salk pernah mengatakan “apakah kamu bisa mematenkan Matahari”, walaupun banyak yang memperdebatkan apakah omongan Salk itu didasari niat ikhlas atau karena vaksin ciptaannya tidak dapat dipatenkan adalah hal yang angin lalu. Namun yang jelas kita semua, mendapatkan manfaat sebab vaksin yang dibuat oleh Salk tidak dipatenkan, jika vaksin polio dipatenkan mungkin di sudut-sudut kolong kemiskinan di Afrika masih ada anak yang lumpuh susah bernafas akibat polio.

Tinggalkan Balasan

Email Anda tidak akan di publikasikan. Bidang yang ditandai * harus diisi